Ruan Yu kembali ke kedai minuman, di mana rekan kerjanya sudah menunggu dengan kesal.
Untungnya hari ini tidak terlalu sibuk, dan rekan kerjanya tidak terlalu mempermasalahkan. Setelah beberapa kali meminta maaf, masalah pun selesai.
Saat sepi pengunjung, rekan kerjanya tiba-tiba berbisik penuh semangat, “Tebak aku barusan lihat apa?”
Ruan Yu langsung membeku. Pikirannya langsung melayang ke kejadian di dalam mobil. Tangannya gemetar saat membereskan buku pelajaran.
“Lihat apa?” tanyanya berusaha tenang.
Rekannya menunjuk ke arah jalan, “Lihat mobil mewah di seberang itu? Aku cek harganya, lebih dari lima miliar!”
Ruan Yu mengikuti arah tunjukannya, persis melihat mobil Gu Zijing menjauh. “I…iya,” jawabnya kaku.
Rekannya melanjutkan dengan suara berbisik, “Tadi aku lihat mobilnya terus bergoyang-goyang. Pasti ada yang sedang ‘beraksi’ di dalam!”
Ruan Yu yang sudah pucat semakin kehilangan warna. “Iya, tidak tahu malu,” bisiknya hampa.
Teman yang masuk menghentikan obrolan itu.
Saat jam pulang tiba, Ruan Yu segera pergi.
Di asrama, Du Feipeng menyambutnya dengan tatapan sinis, “Siang tadi ada yang cari kamu.”
Ruan Yu mengira itu Tao Shu, tapi Du Feipeng melanjutkan, “Pria paruh baya pakai jas, sepertinya orang kaya.”
Kaki Ruan Yu terasa seperti diisi timah.
Apakah itu Gu Zijing?
Ternyata Gu Zijing sudah menyelidikinya sampai ke sekolah!
“Orang itu siapa? Ayahmu?” ejek Du Feipeng. “Tapi bukankah kamu anak yatim?”
Ruan Yu tersadar – pasti itu sopir Gu Zijing.
“Supir Direktur Gu,” jawabnya pelan, berusaha tenang.
Mendengar nama Gu Xiong, Du Feipeng langsung kehilangan minat mengganggunya.
Malam itu Ruan Yu tidur tidak nyenyak. Ia bermimpi hubungannya dengan Gu Zijing terbongkar, semua orang memandangnya dengan hina seperti pelacur.
Pukul lima pagi, ia sudah bangun dan pergi ke kelas.
Tao Shu sudah menunggu dengan sarapan. “Aku belikan kamu makan pagi,” katanya ramah.
Ruan Yu tersipu malu, “Tidak usah repot-repot…”
“Kalau mau balas budi, ajari aku mengerjakan soal ini,” ujar Tao Shu sambil tersenyum.
Di sekolah, Ruan Yu merasa bisa bernapas lega. Di sini ia bisa menjadi siswa biasa, jauh dari Gu Zijing.
Telepon Gu Zijing datang keesokan sore.
Maybach hitam itu parkir di seberang jalan. Ruan Yu berhati-hati memastikan tidak ada yang melihat sebelum masuk mobil.
Gu Zijing duduk dengan mata terpejam, suasana di dalam mobil tegang.
“T…Tuan Gu,” sapa Ruan Yu kecil.
Tak mendapat respon, ia mulai panik. Pintu mobil yang terbuka mulai menarik perhatian orang yang lewat.
“Tuan Gu,” panggilnya lagi, suaranya memohon.
Akhirnya Gu Zijing membuka mata, lalu menarik kasar Ruan Yu ke dalam.
“Berani sekali di telepon tadi,” katanya dingin.
Biasanya orang yang berani melawan Gu Zijing akan langsung ‘dihukum’. Tapi ia masih ingin bermain dengan Ruan Yu.
Saat telepon Ruan Yu tiba-tiba berdering, mata Gu Zijing berbinar gelap.
“Temanmu menelpon,” ujarnya. “Angkat.”