Begitu keluar dari ruang rapat, sekretaris langsung mengikuti Wei Hua sambil mencoba menyampaikan agenda kerjanya.
Baru buka mulut, Wei Hua sudah melambaikan tangan. “Serahkan semua ke orang lain. Lihat siapa yang bisa mengerjakan.”
Sekretaris itu membuka mulut lagi dengan wajah kesulitan, tapi Wei Hua sudah menutup pintu kantornya. Perempuan itu pun menyeringai, wajahnya dipenuhi ekspresi merendahkan.
“Agenda biasa saja tidak mau tangani. Jabatan Direktur hanya hiasan,” gerutunya dalam hati.
Seluruh perusahaan tahu Wei Hua cuma memanfaatkan nama keluarga Wei. Pekerjaan sederhana yang bahkan anak SD bisa selesaikan pun ia tolak. Tak heran kekuasaannya dikosongkan.
Wei Hua tentu sadar dengan pandangan mereka.
Kalau memang peduli, ia tak akan bersikap seperti ini. Justru inilah yang ia inginkan.
Dari awal, ia sudah tahu dirinya tidak akan mewarisi apapun dari keluarga Wei. Keputusan Kakek memanggilnya kembali pasti sudah mengganggu kepentingan banyak orang. Kalau ia tampil terlalu menonjol, masalah akan terus berdatangan.
Dan Wei Hua terlalu malas untuk berurusan dengan masalah – apalagi yang berasal dari keluarga Wei.
Dengan pola pikir seperti ini, ia pun bekerja sekedarnya: bermalas-malasan di kantor seharian.
Bahkan ada yang berani buka taruhan kapan Wei Hua akan benar-benar mangkir dari kantor.
Mengetahui hal itu, Wei Hua diam-diam ikut bertaruh pada dirinya sendiri – sekedar hiburan.
Begitu jam pulang tiba, ia jadi orang pertama yang keluar kantor – seolah sudah menghitung detik-detik terakhir.
Tinggal lebih lama terasa seperti siksaan.
Mobilnya masih di parkiran perusahaan. Setelah mengambilnya, ia langsung menuju Blue Tone Cafe.
“Pagi tutup, masa sore juga tutup? Apakah pemiliknya tidak perlu cari uang?” batinnya.
Ternyata Sheng Qi memang sengaja tidak buka. Wei Hua kembali gagal menemukannya – kunci pintu masih sama, tidak terganggu.
Wei Hua hampir pergi, tapi tiba-tiba berbalik. Ia memeriksa kunci lagi, mencari-cari notes yang ia tinggalkan.
Hilang.
Mungkin tertiup angin dan sudah dibersihkan petugas kebersihan?
Atau mungkin sudah diambil pemilik kafe?
Penasaran tapi kecewa, Wei Hua akhirnya pulang dengan perasaan tidak karuan – seperti ada yang mengganjal di tenggorokan, membuatnya lesu tak bergairah.
Beberapa hari berikutnya, Wei Hua seperti berlomba dengan kedai itu: datang setiap pagi dan sore, selalu meninggalkan notes.
Tapi selain notes pertama yang hilang, notes berikutnya tetap tertinggal di kunci.
Frustasi, Wei Hua bahkan menemui pengelola gedung untuk menanyakan apakah kafe itu sudah tidak beroperasi atau disewakan.
Jawaban mereka: tidak tahu. Rupanya toko itu adalah milik pribadi pemilik kafe, dibeli sejak lama, dan tidak ada tanda-tanda akan disewakan.
Entah apa yang ada di pikiran Wei Hua, tiba-tiba ia bertanya, “Bisakah Anda memberikan saya nomor kontak pemiliknya?”