“Apa yang dikatakan dokter?”
“…”
“Mereka bilang itu amnesia, kan?”
“…”
“Apakah mereka tahu kalau kamu berbohong?”
Jingyeom, yang membungkus dirinya erat-erat dengan selimut hingga hanya matanya yang terlihat, menatap Soohyuk dengan ekspresi muram.
“Aku tidak pernah berbohong.”
Soohyuk tersenyum sinis, mengangkat salah satu sudut bibirnya dengan nada meremehkan.
“Lalu?”
“Mereka bilang itu amnesia disosiatif.”
“…Jadi kamu benar-benar kehilangan ingatanmu?”
“Ya, kalau dokter bilang begitu, pasti benar.”
Jingyeom menjawab dengan nada yang sama, tampaknya tersinggung oleh tuduhan berbohong.
“Bagaimana rasanya tidak memiliki ingatan sama sekali?”
“Uh…”
Jingyeom perlahan melepaskan selimut yang dipegangnya erat dan menggerakkan jarinya. Itu bukanlah pertanyaan yang bisa dia jawab dengan mudah.
Meskipun dia tidak benar-benar kehilangan ingatannya, dia mengalaminya secara tidak langsung.
Setelah pemeriksaan, ketika dokter mengajukan beberapa pertanyaan, ironisnya dia benar-benar tidak bisa mengingat apa pun.
Pada saat itu, dia bertanya-tanya apakah ini adalah efek samping dari transmigrasi.
Catatan singkat.
amnesia disosiatif adalah kondisi gangguan kejiwaan langka yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi yang penting, terutama yang terkait dengan peristiwa traumatis atau menyedihkan. Hilangnya ingatan ini tidak dapat dijelaskan oleh penyebab medis lain dan sering kali menyebabkan tekanan serta memengaruhi kehidupan penderitanya.
Penyebab:
Penyebab utama amnesia disosiatif adalah faktor psikologis, seperti stres berat atau trauma, yang menyebabkan pikiran memblokir ingatan penting.
Gejala:
1. Ketidakmampuan mengingat informasi pribadi
2. mengalami kesenjangan memori yang bisa berlangsung beberapa menit hingga puluhan tahun
3. Kehilangan ingatan ini berbeda dari kelupaan biasa atau kondisi medis lainnya.
4. Kondisi ini tidak sekadar lupa, tetapi dapat menyebabkan tekanan dan mengganggu kehidupan sehari-hari.