Hanya seminggu setelah kembali ke negara asal, Chen Jiayu menerima telepon dari Liu Rui. Saat itu, ia sedang membereskan barang-barang di Lijing. Setelah Cao Hui pergi, ia berencana pindah kembali ke apartemen dua kamarnya di Lanhe Bay. Kebetulan, banyak hal seolah telah diatur oleh takdir. Penyewa apartemennya memiliki seorang anak yang akan bersekolah di luar negeri, sehingga mereka memutuskan untuk pindah ke rumah yang lebih kecil. Ini memberi kesempatan bagi Chen Jiayu untuk kembali. Dari Lanhe Bay ke rumah Fang Hao di Jianhui Garden, hanya sepuluh menit berkendara. Pikiran itu memberinya semangat untuk pindah—hanya sepuluh menit untuk bertemu Fang Hao kapan saja.
Telepon dari Liu Rui hanya memintanya datang ke perusahaan. Nada suaranya serius, berbeda dengan sikap ramah seperti saat makan malam bersama saat tahun baru. Chen Jiayu langsung tahu: mungkin hasil investigasi kecelakaan sudah keluar. Ia menghitung waktunya—memang, laporan awal investigasi seharusnya selesai dalam tiga hari.
Dalam perjalanan ke perusahaan, ia menelepon Fang Hao. Fang Hao hanya bertanya, “Jika kamu tidak harus tiba di perusahaan pada waktu tertentu… mampirlah ke rumahku dulu.”
Chen Jiayu mengerti bahwa Fang Hao ingin berbicara. Karena Fang Hao bersikeras, ia memutuskan untuk mampir sebentar.
Fang Hao menyambutnya dengan senyuman, tengah membereskan rumah. Ia langsung memeluk Chen Jiayu erat, pipi menempel, seolah ingin memberikan kekuatan.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Fang Hao.
“Jujur, aku gugup. Tapi aku bisa mengatasinya. Aku tetap optimis, tapi sebelum hasil resmi keluar, semuanya belum pasti,” jawab Chen Jiayu.
Fang Hao mengangguk. “Aku hanya ingin melihatmu dan mengatakan ini: apapun hasilnya, aku di sini untukmu.”
Chen Jiayu tidak sempat masuk jauh, hanya bersandar di dekat pintu. Ia mengangguk dan mencium pipi Fang Hao. “Aku tahu. Terima kasih.”
Saat hendak pergi, Fang Hao menghentikannya. “Tunggu, aku punya sesuatu untukmu.”
Dari dalam kamar, Fang Hao mengeluarkan kotak cokelat sederhana berisi sebuah kotak kecil. “Ini hadiah ulang tahunmu,* katanya.
“Ulang tahun? Bukannya akhir bulan?” Chen Jiayu bingung.
“Awalnya pesanan ini butuh dua bulan, tapi ternyata selesai dalam sebulan. Tadinya aku ingin menunggu, tapi aku tidak tahan,” kata Fang Hao sambil membuka kotaknya.
Di dalamnya terdapat kalung perak dengan liontin berbentuk batang logam yang terlihat patah, dengan desain yang unik namun elegan.
“Kamu sering memakai kalung, jadi kupikir kamu akan suka,” ujar Fang Hao.
Chen Jiayu mengamati potongan yang tidak rata itu, lalu menebak, “Ada bagian yang lain?”
Fang Hao tersenyum dan mengeluarkan kalung kedua. “Tepat. Yang ini untukku.” Saat disatukan, kedua potongan itu cocok sempurna.
“Sangat indah dan penuh makna. Aku sangat menyukainya. Terima kasih,” kata Chen Jiayu sambil meminta Fang Hao mengenakannya untuknya.
Setelah mengaitkan kalung, Fang Hao mencium tengkuknya. “Awalnya ingin kuberikan nanti, tapi kupikir lebih baik sekarang. Semoga membawa keberuntungan.”
“Terima kasih, baobei. Aku akan mengikuti kata-katamu,” jawab Chen Jiayu dengan lembut.
Pertemuan singkat itu memberinya ketenangan. Sepanjang perjalanan ke perusahaan, ia merasakan dinginnya logam di lehernya—pengingat akan cinta dan dukungan Fang Hao. Ia menyadari betapa ia telah terbiasa menghadapi segalanya sendiri, tetapi Fang Hao selalu tahu kapan ia membutuhkannya. Fang Hao adalah penopangnya, orang yang membuatnya merasa aman.
Ia mengerti makna di balik hadiah itu: setiap jiwa terlahir seperti ranting yang patah, mencari pasangan untuk menyempurnakannya. Tanpa disengaja, takdir mempertemukannya dengan Fang Hao. Kini, pecahan itu telah tersambung, dua setengah lingkaran menjadi satu.
Sesampainya di perusahaan, ia disambut oleh Liu Rui dan tim investigasi. Ekspresi Liu Rui yang tenang memberinya keyakinan.
Dalam sepuluh menit berikutnya, tim menjelaskan hasil investigasi: kesalahan sepenuhnya ada pada Duan Jingchu, yang sengaja tidak mengembangkan flaps. Selain kesaksian Yang Feifei, ada pilot lain yang mengungkapkan bahwa Duan Jingchu kerap melanggar prosedur. Surat pelaporan Kong Xinyi tahun lalu—yang mencantumkan kesaksian Chen Jiayu—juga menjadi bukti kuat bahwa Duan Jingchu bertindak karena dendam pribadi dan keinginan menghemat bahan bakar.
Bahkan, catatan pelatihan Duan Jingchu menunjukkan nilai pas-pasan dalam beberapa ujian, terutama dalam Crew Resource Management (CRM). Tidak hanya terbukti bersalah dalam insiden ini, tim juga memastikan bahwa upaya penyelamatan Chen Jiayu tidak memiliki kesalahan.
Crew Resource Management (CRM) adalah suatu program pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi dalam berbagai lingkungan kerja, terutama penerbangan. CRM menekankan pada penggunaan semua sumber daya yang tersedia (termasuk manusia, informasi, dan perangkat keras) untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan kinerja tim.
Mendengar ini, Chen Jiayu akhirnya bisa bernapas lega.
Beberapa orang menjadi pilot karena cinta pada profesi ini, beberapa karena keuntungan materi, dan beberapa—seperti Duan Jingchu—karena gengsi. Namun, pilot terbaik adalah mereka yang paling menghormati tanggung jawabnya. Meski Duan Jingchu bisa mengintimidasi Kong Xinyi hingga mengundurkan diri, para instruktur senior—mantan pilot militer yang tak kenal kompromi—tidak takut padanya. Tanpa disadari, Duan Jingchu telah menggali kuburannya sendiri.
Hukuman untuk Duan Jingchu masih dibahas, tetapi setidaknya izin terbangnya akan dicabut. Chen Jiayu merasa puas dengan hasil ini.
Saat mengantarnya keluar, Liu Rui berkata, “Proses investigasi tertutup, jadi aku tidak bisa memberi tahu sebelumnya. Selama sebulan ini… kamu sudah bekerja keras.”
Chen Jiayu menghela napas. “Ini prosedur standar. Aku memahaminya.”
Liu Rui menepuk bahunya. “Aku juga mendengar tentang ibumu. Aku turut berduka.”
“Terima kasih, Pak Liu.”
“Panggil saja Paman Liu. Aku dan ayahmu dulu satu tim.” Liu Rui kemudian bertanya, “Jiayu, apa kamu ingin kembali menerbangi rute internasional?”
Pertanyaan itu mengejutkannya. Tawaran itu menggiurkan, tetapi ia langsung teringat Fang Hao—penerbangan internasional berarti sering tidak pulang.
Akhirnya, ia menjawab diplomatis, “Itu kesempatan bagus. Terima kasih, Paman Liu. Aku akan pertimbangkan baik-baik.”