Gerakan menjilati tempat yang sebelumnya aku buka untuk mencoba memberinya darah tadi, kini menjadi sangat gigih. Selain itu, lidahnya juga semakin memberi tekanan, dan aku merasa bahwa jika dibiarkan lebih lama, dia akan menggali luka tersebut.
Aku menghela napas dalam-dalam dan kemudian mendekati air mancur untuk menurunkan Asuka ke tanah. Saat aku mencoba mendudukannya di pagar, ternyata dia sangat keras mencengkeram ujung bajuku sehingga aku tak bisa melepaskannya.
“Tolong lepaskan tanganmu.”
“…..”
“Lepaskan.”
“…..”
Tentu saja, dia tidak akan mendengarkan kata-kata yang tak masuk akal ini, apalagi dalam kondisi seperti sekarang. Aku menyerah untuk berbicara. Akhirnya, dengan paksa, aku harus menggunakan kekuatan untuk melepaskannya. Asuka yang berusaha keras untuk tidak jatuh akhirnya melepaskan genggamannya dan segera mundur.
Namun, ekspresi Asuka berubah dengan cepat menjadi cemberut.
“Hiks…….”
“…..”
“Huhuu…….”
“…..”
Kemudian, dia menengadahkan kepala dan mulai menangis dengan sedih.
Aku membiarkannya menangis untuk sementara waktu, lalu mengangkat tangan dan dengan ringan mengusap tengkukku yang berdenyut. Darah segar yang merah menyala menempel di tanganku. Sepertinya lukanya terbuka lagi.
“Hiks, heuuk… Sakit…”
“…..”
“Sakit, aku sakit… Hiks…”
“…..”
Siapa yang sebenarnya lebih sakit sekarang…? Aku menatap Asuka yang menangis kesakitan, lalu mendekatinya.
“Jangan menangis, berhenti.”
“Sakit…”
“Aku tahu itu sakit, tapi jangan menangis dulu.”
Mendengar kata-kataku, Asuka yang sedang terisak menutup mulutnya rapat-rapat dan menutup matanya erat-erat. Sepertinya dia masih ingin menangis, karena dia terus tersedu, tapi setidaknya dia tidak lagi menangis keras seperti sebelumnya.
Melihat dia masih bisa diajak bicara, aku bertanya dengan tenang.
“Dimana yang sakit?”
“Kepalaku sakit…”
“Kepala? Kenapa kepalamu sakit?”
“Kakiku juga sakit… Tanganku juga sakit… Kaki juga sakit…”
“Jadi semuanya sakit?”
Asuka mengangguk mendengar kata-kataku, lalu membuka matanya yang tadi tertutup rapat. Air matanya mengalir deras, dan setiap kali dia berkedip, bulu matanya yang panjang menempel di bawah matanya sebelum terlepas lagi.
“Tadi kamu juga sakit, tapi bilang nggak sakit, kan?”
“Iya… Hiks.”
Asuka mengangguk lagi sambil terisak dan cegukan.
“Kenapa kakimu terluka?”
“Karena aku menginjak batu yang salah…”
“Siapa suruh keluar rumah tanpa alas kaki?”
“Hiks… Hueee… Heung… Hikss…”
Saat aku mengerutkan dahi, Asuka menurunkan sudut matanya dan bibirnya, lalu mulai menangis keras lagi.
“Jangan menangis.”
“Tapi sakit…”
“Itu karena kamu berlari kesana kemari tanpa pakaian. Kamu terluka karena kesalahanmu sendiri. Jadi kenapa malah menangis?”
Mendengar kata-kataku, tangisannya semakin menjadi. Dan saat itu juga, Asuka mulai mengusap lengannya sendiri, lalu mencakar kulitnya dengan kukunya sampai terdengar suara gesekan. Dia menggaruk dengan begitu keras, hingga di atas bekas segel sihir berwarna hitam di lengannya, kini ada bekas cakaran baru.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Sakit, sakit sekali!”
“Ya jelas sakit kalau kamu menggaruknya seperti itu!”
Pada akhirnya, karena Asuka mulai menggaruk dirinya sendiri hingga berdarah, aku tidak punya pilihan selain menangkap kedua lengannya dengan satu tangan dan menariknya ke dalam pelukan agar dia tidak bisa bergerak.
“Sakit!”
“Diam sebentar. Kalau kamu diam, nanti aku kasih darah.”
“Hiks… Tapi sakit… Sakit beneran… Hiks, huaaa…”
“Iya, aku tahu, jadi jangan tegang dan diam saja.”
“Hikss…”
Mendengar kata-kataku, tubuh Asuka akhirnya mulai melemas. Aku menutupinya dengan jubah agar wajahnya tidak terlihat dan berlari keluar dari taman. Begitu aku mendekati pintu masuk, para penjaga yang berjaga di sana melihatku dan segera menghampiri.
Sebelum mereka sempat mengatakan apa pun, aku meletakkan jari di bibirku dan memberi isyarat agar mereka diam.
“Hiks…”
Asuka masih menangis dalam pelukanku. Aku segera naik ke kamar, lalu melepaskan kain yang menutupi wajahnya. Kulitnya yang awalnya sangat pucat kini tampak merah karena panas.
Sejak tadi, aku sudah merasa kalau suhu tubuhnya jauh lebih tinggi dari biasanya. Aku berpikir untuk memberinya darahku sebelum kondisinya semakin memburuk, tapi aku ragu. Akhirnya, aku mengambil darah ayam yang sebelumnya kubawa.
“Minum ini.”
Aku membuka tutup botolnya dan membawanya ke mulut Asuka. Tanpa banyak perlawanan, bibirnya terbuka, dan aku menuangkan seluruh isi botol ke dalam mulutnya.
“Huwekk!”
“…..”
Begitu darah masuk ke mulutnya, Asuka langsung menyemburkannya tepat ke wajahku.
Tes, tes…
Tetesan darah jatuh dari daguku. Aku bahkan tidak berani membuka mata, hanya diam di tempat. Perlahan, bau amis mulai menusuk hidungku.
Kalau saja semua ini cuma mimpi…
Saat aku membuka mata sedikit, aku melihat Asuka meludah berkali-kali, berusaha mengeluarkan sisa darah dari mulutnya.
“Pilih-pilih makanan…”
Tanpa sadar aku menggumamkan itu, lalu buru-buru menutup mulut lagi. Rasa darah yang terkumpul di antara bibir atas dan bawahku langsung mengalir ke dalam mulutku.
Karena merasa jijik, aku pun ikut-ikutan meludah seperti Asuka.
“Pyuh, pyuh… Pyuuh!”
“Ini semua… Apa-apaan…”
Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
“Aku sudah berusaha menahannya…”
Setelah akhirnya merasa puas meludah, Asuka berkata dengan suara bergetar.
“Karena kau bilang harus menahan diri, aku sudah mencoba…”
“Aku sudah memberimu darah, kan? Jadi…”
“Pembohong… Hiks… Heung…”
“Haa…”
Karena Asuka mulai menangis pelan, aku pun berdiri dari tempatku. Saat ini, keinginanku untuk segera membersihkan darah yang menjijikkan di tubuhku jauh lebih besar daripada keinginanku untuk memberinya darah lagi.
Aku mengusap wajahku dengan satu tangan dan berjalan menuju pintu. Sebelum membukanya, aku melirik ke belakang dan melihat Asuka yang berlumuran darah merangkak naik ke tempat tidur, lalu masuk ke dalam selimut.
Suara isakannya masih terdengar dari dalam, tapi setidaknya dia masih ingat kalau aku pernah bilang agar tidak ketahuan orang lain.
Memori dan kesadarannya masih utuh, tapi kenapa hanya usia mentalnya yang seperti mengalami kemunduran?
Fenomena yang sulit dipahami, tapi aku memutuskan untuk memikirkannya nanti.
“Panggilkan Asala untukku.”
Aku berkata kepada penjaga di depan pintu. Begitu melihat keadaanku, dia sempat terkejut, tapi tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Setelah menundukkan kepala, dia segera pergi.
Sementara itu, selimut yang disentuh Asuka sudah penuh dengan darah. Aku yakin itu tidak akan bisa dipakai lagi, jadi aku menggunakannya untuk mengelap wajahku sembari menunggu Asala datang.
Asuka masih terus terisak.
Tok, tok.
Saat itu, terdengar suara ketukan di pintu.
“Masuk.”
Begitu aku menjawab, pintu terbuka, dan Asala masuk. Dia mengamati keadaan kamar dan penampilanku yang berantakan, lalu tetap diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menundukkan kepala.
“Saya mendengar Anda memanggil saya.”
“Siapkan air untuk mandi. Lalu, bagaimana dengan kamar?”
“Kamar yang akan Anda tempati bersama sudah kami siapkan sesuai perintah Anda. Apakah Anda ingin saya mengantarkan Anda ke sana sekarang?”
Aku menggeleng, lalu menyelipkan jari-jari Asuka yang berlumuran darah kembali ke dalam selimut.
“Mandi dulu. Juga, siapkan perban dan obat untuk luka-lukanya. Oh ya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun rumah kaca di taman utara?”
“Saya akan menyiapkan air untuk mandi terlebih dahulu.”
“Baiklah.”
Aku melihat Asala menundukkan kepala sedikit, lalu keluar dari kamar. Dari luar, terdengar samar suara perintahnya kepada para pelayan.
Saat itu, selimut yang menggembung karena tubuh Asuka sedikit bergerak, dan jari-jarinya kembali menyembul keluar.
Aku hanya diam memperhatikannya, dan saat itulah Asala kembali masuk bersama para pelayan.
Para pelayan, yang biasanya bertugas menyiapkan mandi, berjalan dengan kepala tertunduk dan langsung menuju kamar mandi.
Begitu melihat para pelayan yang biasa membantuku mandi, aku menggeleng pelan. Mereka segera mengerti dan keluar tanpa berkata apa pun.
“Seberapa besar rumah kaca yang Anda inginkan?”
Mendengar pertanyaan Asala, aku berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Tidak terlalu besar… Tapi juga jangan terlalu kecil.”
“Apakah ukuran rumah kaca seperti milik Jihad sudah cukup?”
“Bukankah itu terlalu besar? Buat sedikit lebih kecil dari itu. Selain itu, aku ingin rumah kaca itu benar-benar tertutup dari dunia luar dan memiliki kolam renang. Suhunya juga bukan sekadar hangat, tapi harus terasa sejuk. Pokoknya, buat sebaik mungkin dan secepat mungkin, mulai besok.”
Meskipun penjelasanku terdengar kurang jelas, Asala tidak bertanya lebih lanjut.
Inilah alasan aku menyukai Asala. Aku hanya perlu memberikan instruksi seadanya, dan dia akan selalu menanganinya dengan sempurna.
Setelah persiapan mandi selesai, Asala meninggalkan ruangan, dan keadaan menjadi benar-benar sunyi. Dari dalam selimut, Asuka yang sedari tadi terisak akhirnya keluar perlahan.
Sepertinya dia masih menangis saat berada di dalam, karena wajahnya tampak berantakan.
“Ikut aku, kita mandi.”
Aku berdiri dengan wajah lelah, dan Asuka mengikutiku dari belakang.
Begitu masuk ke kamar mandi, aku melihat bak mandi penuh air dan berbagai macam perlengkapan mandi di sekitarnya.
Karena selama ini aku tidak pernah memperhatikan hal-hal seperti itu, aku tidak tahu mana yang harus digunakan. Tapi yang lebih penting saat ini adalah Asuka.
Aku melepaskan jubahnya yang berlumuran darah, yang hanya tergantung setengah di tubuhnya. Lalu, aku mengguyurnya dengan air untuk membersihkan darah yang menempel, sebelum menunjuk ke arah bak mandi.
“Masuk ke dalam.”
“Aku sakit…”
“Dimana?”
“Tanganku juga sakit…”
Karena dia terus merengek, aku memeriksa tangannya. Entah sejak kapan dia menggaruknya lagi, tapi di atas bekas segel sihir yang berwarna hitam, kini ada luka-luka baru akibat cakaran kukunya sendiri.
“Kenapa kamu terus menggaruknya? Kalau begini, tentu saja sakit.”
Aku mengerutkan dahi, dan Asuka mengusap matanya dengan punggung tangan, tampak seakan ingin menangis lagi.
Menghela napas, aku menggenggam pergelangan tangannya dan membawanya ke bak mandi, membantunya masuk ke dalam.
“Duduk di dalam.”
Asuka sempat menyentuh air dengan ujung kakinya beberapa kali, seperti seekor kucing yang sedang ragu. Namun akhirnya, dengan ekspresi penuh ketidakpuasan, dia masuk ke dalam bak mandi.