Switch Mode

Bab 28

“Aku tidak tahu. Rasanya sama saja.”

 

“Sama dengan apa?”

 

“Dengan sebelum aku datang ke sini. Tapi kenapa kamu terus bertanya seperti itu?”

 

“Aku harus tahu supaya bisa memutuskan apa yang harus kulakukan denganmu.”

 

Tatapan Asuka, yang awalnya menjawab dengan santai sambil menggoyangkan kakinya, akhirnya bertemu denganku.

 

“…..”

 

“…..”

 

Kami saling menatap cukup lama, hingga akhirnya Asuka yang lebih dulu mengalihkan pandangannya. Dia menegakkan tubuhnya dan duduk tegak di sofa, lalu bertanya padaku.

 

“Kamu mau membunuhku?”

 

“Kamu bilang tidak takut mati, kan?”

 

“Bukan karena aku takut.”

 

“Lalu? Kenapa kamu menanyakannya?”

 

“Aku harus tahu supaya bisa memutuskan apakah harus bicara dengan benar atau tidak.”

 

Melihat dia mengulangi kata-kataku sebelumnya dengan tatapan lurus ke arahku, membuat kepalaku terasa pening.

 

“Uhm…”

 

Aku menutup mulut dengan satu tangan dan mengerang pelan, mencoba menahan waktu. Kalau aku berbicara sekarang, aku mungkin akan tertawa. Untungnya, pipiku yang sedikit berkedut tertutup oleh tangan, jadi Asuka tidak bisa melihatnya.

Setelah berhasil menahan tawa, aku berpikir sejenak tentang apa yang harus kukatakan terlebih dahulu, lalu bertanya dengan serius.

 

“Lalu, menurutmu, apakah aku masih terlihat seperti orang biadab?”

 

“Kamu?”

 

“Ya. Kamu pernah menyebutku begitu, kan? Apakah aku masih terlihat seperti itu?”

 

“Kalau aku menjawabnya, kamu tidak akan membunuhku?”

 

“Itu tergantung pada bagaimana kamu menjawabnya.”

 

Ekspresi Asuka langsung berubah. Dia tampak tidak puas, tetapi bibirnya sedikit bergerak, seolah sedang memilih kata-kata.

 

“Kalau aku bilang kamu terlihat seperti orang biadab, kamu akan membunuhku?”

 

“Jangan terus bertanya begitu. Katakan saja pendapatmu. Bagaimana menurutmu?”

 

“…..Hanya saja.”

 

“Hanya saja?”

 

“Kalau dibandingkan dengan yang pernah kudengar sebelumnya….”

 

Asuka terdiam sejenak, lalu melirikku sekilas. Setelah itu, dia kembali mengalihkan pandangannya dan bergumam pelan.

 

“Mungkin tidak sepenuhnya seperti itu.”

 

“Kamu pikir aku tidak terlihat seperti orang biadab?”

 

“Tidak bisa dibilang begitu juga, tapi hanya sedikit…”

 

“Jadi aku masih terlihat seperti orang biadab?”

 

“Itu……”

 

Aska yang tampak kesulitan menjawab, tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia langsung mengernyit dengan ekspresi jengkel.

 

“Dasar bajingan biadab ini…!”

 

“Kenapa kamu selalu berpikir secara ekstrem?”

 

“Jangan tertawa!”

 

“Hahaha.”

 

Saat aku tertawa sambil memegangi perut, Asuka langsung berdiri dan mulai memukulku dengan tinjunya.

 

“Jangan tertawa!”

 

Buk, buk, buk… Suara pukulan yang lemah bergema di dalam ruangan. Dia memang memukul dengan sekuat tenaga, tapi entah karena sihir penyegelan atau karena dia sudah mati lalu hidup kembali, pukulan itu tidak terasa sakit. Aku membiarkan diriku dipukul sebentar, lalu menenangkan Asuka.

 

“Kalau tidak mau mati, setidaknya kamu harus menyanjungku.”

 

“Lebih baik bunuh saja aku, dasar bajingan!”

 

“Jangan ngomong kasar. Tenang dulu–”

 

Aku mencoba mendudukkannya kembali ke sofa, tetapi saat itu terdengar suara ketukan di pintu. Begitu mendengar suara itu, Asuka yang masih mengomel langsung berlari dan bersembunyi ke arah kamar mandi.

Melihat reaksinya yang cepat, aku tertawa kecil sambil membuka pintu. Para pelayan membawa makanan dalam jumlah yang cukup untuk memberi makan setidaknya enam orang. Setelah mereka selesai meletakkan makanan di meja dan keluar, aku memanggil Asuka.

 

“Kamu bisa keluar sekarang.”

 

Mendengar perkataanku, Asuka mengintip dari kamar mandi sebelum akhirnya berjalan keluar dengan hati-hati.

 

“Makan dulu, baru kita lanjut bicara.”

 

Tanpa menjawab, Asuka langsung duduk dan meraih sepotong roti, lalu mulai melahapnya dengan lahap.

 

“…..”

 

Benar-benar melahap tanpa henti……

Roti hanyalah awalnya. Daging, buah, salad, sup, ikan, dan makanan penutup-dia memakan semuanya tanpa pilih-pilih, mengunyah dan menelannya dengan kecepatan luar biasa.

 

“Makanlah pelan-pelan. Aku tidak akan merebut makananmu.”

 

Mendengar kata-kataku, kecepatan makannya sedikit melambat. Tapi tidak lama kemudian, dia kembali makan dengan cepat, membuat peringatanku sia-sia. Pada titik ini, dia bukan lagi makan, tapi hampir menyedot makanannya seperti mesin vakum.

Apakah dia benar-benar kelaparan? Mengingat suara yang keluar dari perutnya tadi, sepertinya dia sudah tidak makan selama tiga atau empat hari.

Aku sedikit khawatir dia akan sakit perut, tapi untuk saat ini, membiarkannya makan sepuasnya tampaknya pilihan terbaik. Aku hanya duduk diam dan mengamati bagaimana dia melahap makanan dengan rakus.

Meskipun dia makan dengan begitu brutal, jumlah makanan di meja sangat banyak. Aku yakin dia tidak akan bisa menghabiskan semuanya.

 

“…..”

 

Tapi sekarang, hanya setengah makanan yang tersisa. Melihatnya masih terus makan, aku mulai berpikir, apakah perutnya lebih besar dari yang kuduga? Atau mungkin makanannya terlalu lezat sampai dia tidak sadar kalau sudah kenyang?

 

“…..”

 

Sekarang makanan yang tersisa bahkan tidak sampai 30%. Ini bukan sekadar makan banyak, tapi sudah di luar batas wajar. Bagaimana semua makanan itu bisa masuk ke tubuh sekecil itu?

 

“…..”

 

Aku hanya bisa terkejut saat melihat Asuka akhirnya menghabiskan seluruh makanan di meja. Sepertinya dia makan lebih banyak dari berat badannya sendiri.

 

“Kamu babi, ya?”

 

“Apa ini?”

 

Entah tidak mendengar atau sengaja mengabaikan kata-kataku, Asuka malah mengangkat piring kosong dan bertanya. Itu jelas piring yang tadi berisi buah kering.

 

“Itu buah kering.”

 

“Ini enak banget.”

 

“Mau tambah lagi?”

 

Asuka mengangguk cepat. Aku menatapnya dengan ekspresi tak percaya sebelum akhirnya mengernyit.

 

“Sudah cukup.”

 

“Tapi tadi kamu bilang bisa tambah kalau kurang?”

 

“Itu cuma basa-basi. Kamu sadar nggak seberapa banyak kamu sudah makan?”

 

“Pelit banget, cuma gara-gara makanan……”

 

“Aku cuma nggak mau kamu sakit perut karena makan berlebihan. Sekarang pergi cuci tangan dan wajahmu.”

 

Aku berbicara dengan nada jijik, membuat Asuka menatapku kesal sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Sementara itu, aku memanggil pelayan untuk membersihkan meja. Setelah mereka pergi, Asuka keluar dari kamar mandi dengan wajah sedikit basah.

 

“Kamu benar-benar sudah cuci muka? Tadi kamu juga bilang mau mamdi tapi keluar dalam 10 detik.”

 

“Udah dicuci.”

 

Baru sekali aku bertanya, tapi dia menjawab dengan nada seolah aku sudah bertanya berkali-kali. Asuka terlihat malas menanggapi, lalu mengibaskan jubah yang dipakainya. Sepertinya perutnya mulai kenyang, jadi baru sekarang dia merasa gerah.

 

“Panas banget, serius. Andai saja sekarang musim dingin.”

 

“Sudah selesai makan, sekarang duduk lagi. Dan sekedar informasi, sekarang memang musim dingin.”

 

“….Apa?”

 

Saat aku kembali ke topik utama, Asuka tiba-tiba mendekat dengan wajah pucat.

 

“Musim dingin? Sekarang?”

 

Karena jaraknya yang mendadak begitu dekat, aku sedikit menjauh dan menjawab,

 

“Iya, sekarang musim dingin.”

 

“Seperti ini? Panas begini?”

 

“Tidak terlalu panas, kok.”

 

“Kau gila?”

 

“Jangan ngomong kasar.”

 

“Negara gila ini….”

 

Asuka jatuh terduduk ke lantai dengan ekspresi paling putus asa sejak datang ke Akhtan.

 

***

 

Karena Asuka merasa seperti mau mati kepanasan, akhirnya kami terpaksa melanjutkan percakapan di dalam kamar mandi.

 

“Jadi, kamu benar keturunan keluarga kerajaan, kan? Kudengar ada sesuatu yang bukan manusia di antara leluhurmu. Kamu tahu soal itu?”

 

Aku bertanya sambil duduk membelakangi Asuka di tepi bak mandi, menatap lurus ke depan. Suara Asuka menghela napas panjang terdengar dari dalam bak yang penuh dengan es batu. Sepertinya dia akhirnya merasa lebih baik. Setiap kali dia menggerakkan lengan dan kakinya di dalam air, suara es yang saling berbenturan ikut terdengar.

 

“Aku nggak tahu secara pasti, tapi rasanya pernah dengar nenek bilang sesuatu soal itu.”

 

“Nenek yang menyuruhmu melumuri tubuh dengan lumpur itu? Berarti dia bukan nenek kandungmu?”

 

“Dia nenek kandungku.”

 

Asuka tampaknya sangat percaya dengan itu. Tapi kemungkinan besar, dia adalah seseorang yang ditugaskan mengasuh Asuka setelah dia terpisah dari keluarga kerajaan karena suatu alasan.

 

“Kamu tinggal di daerah kumuh, kan? Pernah dengar sesuatu tentang orang tuamu?”

 

“Nggak terlalu.”

 

“Kamu punya teman disana? Nenek yang tinggal bersamamu masih ada di sana?”

 

“Pai menghilang mendadak saat musim dingin, jadi sudah lama aku tidak melihatnya. Nenek ikut denganku ke istana. Katanya kalau aku kembali nanti, mereka akan memberiku rumah supaya bisa tinggal bersama nenek.”

 

Mendengar itu, aku melirik ke arah Asuka. Dia sedang menunduk menatap air es, lalu perlahan mengangkat kepalanya saat merasakan tatapanku.

 

“Pai?”

 

“Temanku, tapi tiba-tiba menghilang.”

 

“Nggak ada teman lain? Apakah hanya satu orang itu?”

 

“Dia bukan orang, tapi anjing.”

 

“…..”

 

Jadi dia tidak punya teman manusia? Awalnya kupikir Pai ikut terlibat dalam masalah ini dan sudah mati. Tapi kalau yang dia maksud anjing, berarti dugaanku salah.

Aku tidak tahu seberapa besar wilayah permukiman kumuh itu. Tapi jika Raja Calderaia memiliki sifat yang mirip dengan Khalifa, kemungkinan besar orang-orang yang tinggal disana telah dimusnahkan, dan rumah-rumah mereka dibakar menjadi abu. Nenek yang membesarkan Asuka juga pasti sudah mati.

Sejak awal, rencana mereka memang membunuh Asuka di sini. Jadi, dia seharusnya sudah bukan orang hidup lagi. Bagi mereka, jauh lebih merepotkan jika informasi tentang Asuka bocor ke luar dibandingkan kehilangan seorang pelayan tua dan puluhan atau bahkan ratusan penduduk miskin.

 

“Kamu berteman dengan anjing?”

 

“Kenapa nggak boleh? Kami tumbuh bersama sejak kecil.”

 

“Kamu masih kecil sekarang.”

 

“Jangan meremehkan aku cuma karena badanku kecil. Apa kalau kau tinggi berarti sudah dewasa?”

 

“Aku nggak bilang apa-apa soal tinggi badan….”

 

Asuka menatapku tajam, seolah tersinggung sendiri. Tapi karena dia basah kuyup seperti tikus putih yang kehujanan, ekspresinya sama sekali tidak menakutkan.

 

“Kamu diculik, dan saat aku menemukannya, kamu sudah nggak bernapas. Kamu dengar ini, kan?”

 

Asuka mengangguk.

 

“Aku pernah membaca sesuatu tentang Dinasti Calderaia. Di sana ada cerita soal mengonsumsi darah dan sebagainya. Aku teringat akan hal itu, lalu coba memberimu darahku… dan tiba-tiba kamu bernapas lagi.”

 

“…..”

 

“Lalu setelah kamu sadar, kamu terus merasa sakit dan akhirnya mencoba meminum darahku. Kamu ingat ini?”

 

“Kamu bilang nggak ingat?”

 

“Itu bohong, tentu saja. Mana mungkin aku bisa lupa?”

 

Aku mungkin tidak akan pernah bisa melupakan itu seumur hidupku. Bukan hanya binatang, bahkan manusia pun tidak seharusnya menghisap darah orang lain… meskipun secara teknis, Asuka bukan manusia sepenuhnya.

Saat itu, Asuka tiba-tiba mengangkat satu lengannya tinggi-tinggi, lalu menepakkannya ke permukaan air dengan keras.

Splash! Air menciprati sekeliling, dan beberapa bongkahan es terpental keluar.

Aku yang basah kuyup hanya bisa memejamkan mata sejenak sebelum mengusap wajahku dengan tangan.

 

“Selama tinggal di daerah kumuh atau setelah pindah ke istana, pernah kejadian seperti itu?”

 

“Tidak pernah.”

 

“Apa ada kemungkinan kamu tidak mengingatnya?”

 

“Nggak mungkin.”

 

Melihat betapa yakin ekspresinya, sepertinya Asuka benar-benar mengingat semua kejadian itu tanpa ada yang terlupakan.

 

For All Your Not-So-Beautiful Things

For All Your Not-So-Beautiful Things

너의 모든 아름답지 않은 것들을 위해
Status: Ongoing Type: Author: Artist: Released: 2024 Native Language: Korea

'Yang lemah ada untuk dirampok oleh yang kuat.'   Akhtan, sebuah negara gurun dimana sejarah invasi dan pembantaian masih terus berlanjut. Pangeran Kyle, yang telah hidup dalam penindasan di bawah pemerintahan tirani Kaisar Khalifa, sang Dewa Matahari, tiba-tiba dipaksa untuk menikah.   'Pernikahan macam apa ini? Ini tidak lebih dari penculikan... Kenapa aku...? Dosa apa yang telah dilakukan putri itu sehingga dia harus menanggung semua ini?'   Putri Calderaia yang muncul di pesta pernikahan yang digelar hanya seminggu lagi itu adalah orang tercantik yang pernah dilihatnya. Meski matanya berbinar bagai permata, penuh dengan permusuhan yang tak dapat dijelaskan.    

Comment

Leave a Reply

error: Content is protected !!

Options

not work with dark mode
Reset