Switch Mode

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man (Chapter 86)

Anak Haram?

Yang tidak diketahui He Yang adalah, ada seseorang yang memantaunya bekerja – orang itu adalah Lu Tingfeng.

Perusahaan logistik yang baru dibuka ini sebenarnya tidak ada hubungan langsung dengan Lu Tingfeng, tapi tanah tempat perusahaan ini berdiri adalah milik keluarga Lu.

Keluarga Lu sejak dulu sudah menjadi tuan tanah, dengan anggota keluarga yang banyak dan kepemilikan tanah yang luas. Hanya dengan beberapa bidang tanah di Beijing saja, keluarga Lu sudah bisa hidup berkecukupan selama beberapa generasi.

Pemilik perusahaan logistik ini adalah orang kaya baru yang merintis dari nol. Di kalangan finansial, siapa yang tidak mengenal keluarga Lu yang termasyhur itu? Apalagi CEO muda berbakat seperti Lu Tingfeng.

Pemilik perusahaan ini sangat pandai membaca situasi. Dari sekilas pandang saja dia sudah tahu bahwa perhatian Lu Tingfeng pada He Yang berbeda – tatapan matanya saja sudah lain.

Karena itu, dia sudah memerintahkan stafnya untuk memberikan perlakuan khusus pada He Yang, semata-mata demi menyenangkan hati Tuan Lu.

Tapi sebenarnya, apapun yang mereka lakukan tidak akan pernah bisa memuaskan Lu Tingfeng. Karena setiap keringat dan kesulitan yang dialami He Yang seperti menyiksa batin Lu Tingfeng.

Dia tidak berani menghadapi masa lalu He Yang – karena hanya dengan melihat keadaan sekarang saja, dia sudah bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan He Yang dulu, apalagi sambil membesarkan seorang anak.

Kalau bukan karena nasihat kakaknya Lu Tinghao, dia tidak akan berani mengganggu kehidupan He Yang dengan sikapnya yang sekarang.

“Lu Tingfeng, kamu sudah 27 tahun. Seorang pria dewasa tapi tidak berani menghadapi He Yang, tapi juga ingin merebutnya kembali. Apa otakmu bermasalah?”

“Kalau kamu tidak yakin apakah orang itu pacar atau suaminya, kenapa tidak langsung saja muncul di depan He Yang beberapa hari? Lihat reaksinya, lihat reaksi anaknya. Sekalian ini kesempatanmu untuk menebus kesalahan.”

Lu Tingfeng merasa masuk akal. Karena itu dia meninggalkan pekerjaannya dan mulai muncul secara terang-terangan dalam kehidupan He Yang. Tidak peduli apakah He Yang memukulnya atau memarahinya, yang penting He Yang tidak mengusirnya.

Diam-diam dia mengawasi He Yang bekerja melalui rekaman kamera, sampai jam pulang ketika He Yang seperti biasa membawa makanan yang dibungkus.

Dia menyetir pelan, mengikuti bus yang ditumpangi He Yang sampai ke depan TK.

Hari ini Xuan Xuan terlihat sangat sedih, matanya bengkak seperti habis menangis.

Ketika He Yang tiba, Xuan Xuan buru-buru mengusap air matanya sebelum berlari keluar dan memanggil pelan, “Papa…”

Sebagai ayah, He Yang langsung tahu ada yang tidak beres. Mata bengkak tapi bilang tidak apa-apa.

Setelah bertanya pada Bu guru Li, baru diketahui kejadian sebenarnya.

Di sekolah, Xuan Xuan sangat populer di kalangan murid perempuan, membuat beberapa anak laki-laki iri. Salah satunya bernama Jin Hongsheng, anak yang gemuk dan sering menggertak Xuan Xuan. Hari ini dia bahkan memaki Xuan Xuan sebagai “anak haram yang hanya punya ayah”.

Xuan Xuan tidak bisa membalas, akhirnya menangis.

Meski guru sudah meminta Jin Hongsheng meminta maaf, anak itu sangat keras kepala dan malah membentak guru-guru.

Guru tidak punya pilihan selain menghibur Xuan Xuan dan memintanya tidak terlalu dipikirkan.

Ini adalah TK swasta biasa. Kebanyakan murid di sini berasal dari keluarga kurang mampu – kalau tidak, pasti sudah memilih TK internasional. Orangtua sibuk bekerja, kurang memperhatikan pendidikan anak, sehingga banyak anak yang sulit diatur. Pertengkaran antar anak sering terjadi.

Setelah berterima kasih pada guru, He Yang membelai rambut Xuan Xuan dengan lembut. Melihat mata merah anaknya, hatinya seperti diremas.

“Xuan Xuan, apa kamu marah pada papa?” tanya He Yang.

Xuan Xuan hanya merasa sangat sedih. Kenapa di mana-mana orang selalu bicara buruk tentangnya?

Dulu di kampung, orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar sering bicara hal-hal aneh yang tidak sepenuhnya dia pahami. Tapi beberapa kalimat melekat di ingatannya:

Mereka bilang papa adalah monster.

Mereka bilang Xuan Xuan adalah anak monster yang dilahirkan papa.

Mereka bilang tidak ada yang suka pada papa dan dirinya.

Sekarang di sekolah baru ini, teman-temannya bilang Xuan Xuan tidak punya ibu, anak haram.

Xuan Xuan belum genap tiga tahun. Jiwanya yang masih kecil tidak sanggup menanggung begitu banyak cibiran dan kata-kata kasar. Satu-satunya cara adalah menangis.

Xuan Xuan mengatupkan bibirnya, tidak berani menatap He Yang. Lama akhirnya dia berkata dengan suara sendu:

“Papa, aku ingin papa yang satu lagi cepat kembali.”

“Baik, nanti papa telepon dia, oke? Bilang kalau Xuan Xuan rindu padanya, setelah urusan besar selesai harus cepat pulang untuk melindungi Xuan Xuan.”

“Xuan Xuan tidak perlu dilindungi. Xuan Xuan hanya ingin dua papa hidup bersama. Xuan Xuan bukan anak haram.”

Anak haram? Dua kata itu seperti pisau yang menikam jantung He Yang, mengingatkannya pada masa lalu yang pahit.

Orang itu pernah bilang, dia paling membenciku, jadi anak yang kulahirkan juga akan dibencinya. Dia tidak akan mengakui atau menyayangi anak ini.

He Yang bisa berusaha sekuat tenaga membesarkan Xuan Xuan dengan baik. Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa tidak adanya figur ayah lain akan berdampak sebesar ini pada Xuan Xuan.

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man

離婚後成了豪門大佬的小心肝
Status: Ongoing Type: Author: Released: 2022 Native Language: China
【CEO Dominan dan Licik (Gong) VS Istri Manis dan Lembut (Shou)】 Hubungan pernikahan He Yang dan Lu Tingfeng berada di ambang kehancuran. Lu Tingfeng tidak mencintainya, karena hatinya sudah diisi oleh “cahaya bulan putih” (cinta sejatinya yang sempurna) yang tak tergantikan. He Yang telah berusaha ribuan kali, tapi tetap tidak bisa membuat Lu Tingfeng jatuh cinta padanya. Dengan tubuh yang penuh luka, He Yang berlutut di hadapan Lu Tingfeng dan berkata: "Aku tidak menginginkan apa pun lagi, kumohon lepaskan aku. Aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan mengganggumu lagi." ...Tiga tahun kemudian, He Yang kembali ke Beijing dengan seorang anak berusia tiga tahun. Lu Tingfeng, yang kini seperti orang gila, terus mengejarnya dan memohon maaf: "Baobei, aku salah, kamu boleh marah atau memukulku, asalkan kamu bahagia." "Baobei, ini kartu kreditku, ini PIN-nya, ini kunci mobilnya. Semua milikku adalah milikmu." "Baobei, aku sudah tidur di sofa selama sebulan, bolehkah malam ini tidur di ranjang bersamamu?" "Baobei, bolehkah kita negosiasi soal uang jajan? Bolehkah aku minta dinaikkan sedikit?"   Catatan:
  • Awal cerita sedikit angst, tapi manisnya luar biasa di akhir!
  • 1V1, keduanya setia (double cleanliness), ada unsur mpreg (kelahian anak oleh pasangan pria).
  • Pasangan pendukung (side CP) juga memiliki cerita yang sangat manis! 

Comment

Leave a Reply

error: Content is protected !!

Options

not work with dark mode
Reset