Pasangan Lu Yuhang sudah lama tidak bertemu dengan putra mereka.
Ketika menelpon sekretaris Xiao, mereka diberitahu bahwa putranya sedang sibuk bekerja. Saat menghubungi Chen Yinan dan kawan-kawan, jawabannya adalah bahwa dia sedang berlibur ke luar negeri. Akhirnya, mereka menelepon Xu Ma, yang mengatakan bahwa Tuannya jarang keluar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.
Khawatir dengan kondisi putranya, Lu Yuhang dan istrinya segera berkendara dari rumah utama menuju rumah Lu Tingfeng.
Xu Ma menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya dengan sigap, menyajikan dua cangkir teh berkualitas tinggi di ruang tamu.
“Di mana Tingfeng?” tanya Nyonya Mei Xi.
“Ah, Tuan muda belum bangun. Apakah perlu saya membangunkannya?”
“Tidak usah, biarkan dia bangun sendiri. Siapkan makan siang saja, kami akan makan di sini.”
“Baik, Nyonya.”
Lu Tingfeng baru terbangun saat matahari sudah tinggi. Matanya masih mengantuk saat ia berganti pakaian dan turun ke lantai bawah.
“Ayah, Ibu, kenapa kalian datang?”
Nyonya Mei Xi memandangi putranya yang sudah dua bulan tidak pulang itu dengan kesal. “Kamu pikir kenapa? Lu Tingfeng, apakah kamu lupa masih punya rumah? Dua bulan tidak pulang, apa yang kamu lakukan?”
Menghadapi pertanyaan ibunya yang penuh amarah, Lu Tingfeng mengeluarkan jurus andalannya. Ia duduk di samping sang ibu dan meletakkan tangan di bahunya. “Bu, aku kan baru pulang dari liburan ke luar negeri. Aku sudah bilang ke Ayah.”
Dia mengalihkan kesalahan ke ayahnya, tetapi Lu Yuhang segera membela diri: “Liburan? Itu namanya menghancurkan diri sendiri! Jangan kira aku tidak tahu kamu main olahraga ekstrem di luar negeri. Kalau aku cerita ke ibumu, kamu pikir dia tidak akan khawatir?”
Sebenarnya, Lu Yuhang sangat bangga pada putranya. Sejak kecil, Lu Tingfeng dikenal cerdas dan disukai banyak orang. Dengan pengetahuan luas dan bakat brilian, ia lulus kuliah lebih awal, kembali ke dalam negeri, dan sukses menjadi pengambil keputusan penting di perusahaan.
Tapi entah mengapa, satu – dua tahun terakhir ini, ia berubah. Semangatnya menurun, menjadi pendiam. Di pekerjaan, ia tetap gigih, tapi di kehidupan pribadi, ia seperti kehilangan kendali — minum-minum, balapan mobil, olahraga ekstrem…
Sulit untuk dihentikan.
Nyonya Mei Xi menepuk pipi Lu Tingfeng dengan lembut. “Nak, bisakah kamu mengerti perasaan seorang ibu? Setiap kali kamu main olahraga berbahaya, aku selalu khawatir.”
“Baiklah, bu. Aku mengerti.”
Nyonya Mei Xi menyenggol lengan suaminya, memberi isyarat agar ia segera menyampaikan tujuan utama kedatangan mereka.
Lu Yuhang yang selalu patuh pada istrinya akhirnya berbicara dengan ragu: “Putri Paman Yu baru pulang dari luar negeri. Kamu bisa luangkan waktu untuk menemaninya jalan-jalan.”
Lu Tingfeng langsung menolak. Ia tahu maksud orang tuanya, tapi ia sama sekali tidak berminat.
Nyonya Mei Xi yang kesal menepuk bahu putranya. “Nak, kamu sudah bercerai tiga tahun lalu. Sekarang usiamu 27 tahun. Ibumu hampir 50. Ayah dan Ibu ingin memiliki cucu. Kamu—”
“Bu, aku tidak punya keinginan untuk pacaran, apalagi menikah lagi dan punya anak. Tolong jangan paksa aku.”
Wajah pasangan Lu langsung berubah. Mereka tahu betul sifat putra mereka—cerdas, mandiri, dan mencintai kebebasan sejak kecil. Sulit untuk mengendalikannya, kecuali oleh kakek dan pamannya. Meski ia anak yang berbakti…
Setelah makan siang dengan suasana tidak nyaman, pasangan itu akhirnya pulang.
Tak lama kemudian, Xiao Xu menelepon dan melaporkan bahwa Nona Zhao datang ke perusahaan, meminta bertemu Lu Tingfeng.
Meski Xiao Xu sudah berkali-kali mengatakan bahwa Lu Tingfeng tidak ada di kantor, Zhao Libing bersikeras menunggu dan tidak mau pergi. Akhirnya, Xiao Xu terpaksa menghubungi Lu Tingfeng.
Saat Lu Tingfeng tiba di perusahaan, para karyawan wanita langsung heboh melihatnya, seolah bertemu selebriti. Setiap kali ia lewat, selalu ada yang berkomentar dan berfantasi.
Sebagai seorang pewaris keluarga kaya dengan wajah tampan dan kemampuan mumpuni, banyak orang—baik pria maupun wanita—berusaha mendekatinya.
Sayangnya, hatinya hanya tertuju pada satu orang: Zhao Libing, seorang selebriti dengan banyak skandal.
Begitu pintu kantor terbuka, sekretaris mengantar Zhao Libing masuk.
Lu Tingfeng mengangkat kepala, memandang Zhao Libing yang kini terlihat sederhana dan lesu. Ia melihat ponselnya sebentar sebelum bertanya: “Ada perlu apa?”
Keadaan Zhao Libing sekarang jauh berbeda dari masa kejayaannya. Tanpa dukungan Lu Tingfeng, ia seperti kapal tanpa layar—tersandung-sandung di industri hiburan. Orang-orang merebut sumber dayanya, adegan filmnya dipotong, ada yang berusaha menjatuhkannya, bahkan ada yang menawarkan uang untuk “membelinya” semalam sebagai penghinaan…
Dari seorang bintang papan atas, ia terjun bebas ke level selebriti kelas tiga. Tidak ada tawaran film, tidak ada iklan, bahkan ketika ia berusaha mendapatkan peran sendiri, ia hanya ditertawakan.
Semua ini terjadi karena skandal masa lalunya. Meski ia tidak pernah mengakuinya, bukti-bukti di internet sangat kuat. Ia takut dan akhirnya memilih kabur ke luar negeri sampai sorotan mereda. Kini, ia kembali, tapi hanya mendapat peran kecil di serial web murahan.
Dia sudah muak. Dia tidak bisa melupakan Lu Tingfeng. Dan dia masih berharap Lu Tingfeng ingat kebaikannya di masa lalu dan mau membantunya.