Switch Mode

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man (Chapter 6)

Tamu Tak Diundang

Dalam setengah bulan berikutnya, Lu Tingfeng benar-benar berusaha pulang tepat waktu setiap hari, dan berusaha semaksimal mungkin untuk meluangkan waktu menemani He Yang berjalan-jalan dengan anjingnya, makan bersama, menonton film, berbelanja, dan sebagainya.

He Yang dapat melihat perubahan mendadak pada diri Lu Tingfeng. Entah karena rasa bersalah atas kehilangan anak mereka yang sebelumnya, atau karena alasan lain, itu semua tidak masalah baginya.

Dia hanya ingin memberi dirinya dan bayi di dalam kandungannya lebih banyak kesempatan.

Dia berharap Lu Tingfeng bisa berubah.

Kehidupan yang tenang selalu terasa berlalu dengan sangat cepat. Waktu satu bulan yang ia tetapkan kini mulai memasuki hitungan mundur.

Sepuluh hari tersisa.

Setiap pagi saat Lu Tingfeng hendak berangkat kerja, He Yang akan berinisiatif untuk memeluknya, dan hari ini tidak terkecuali.

“Kembalilah lebih awal, kita akan makan hot pot malam ini.”

Sekarang sudah mulai masuk musim gugur. Beijing, yang berada di bagian utara, cuacanya menjadi dingin lebih awal. Sekarang adalah musim yang tepat untuk makan hotpot.

“Mm,” jawab Lu Tingfeng.

Reaksi mual He Yang selama hamil tidak terlalu parah. Selama makanannya tidak terlalu amis atau terlalu pedas, ia masih bisa menikmatinya.

Sambil membiasakan diri mengelus perutnya, He Yang mengambil berbagai bahan makanan dari kulkas untuk persiapan makan malam.

Namun, ia tidak menyangka sore itu akan datang dua tamu tak diundang.

Zhao Libing dan adik perempuan Lu Tingfeng, Lu Wenwen.

“Kenapa? Kakak ipar, kamu tidak akan menyambut adik iparmu masuk?”

Lu Wenwen berdiri di luar pintu dengan tangan terlipat di dada, berbicara dengan nada tinggi dan meremehkan.

Sementara Zhao Libing hanya berdiri di sampingnya sambil tersenyum tipis.

Sebelum He Yang dapat menjawab, Lu Wenwen mendorong He Yang ke samping dan berjalan masuk dengan langkah besar.

Mereka berdua dengan santai mengamati ruangan dan duduk di sofa.

He Yang menuangkan dua cangkir teh melati untuk mereka berdua lalu kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya.

Dulu, saat kakek bersikeras ingin menikahkan Lu Tingfeng dengan He Yang, dan membuat seluruh keluarga hampir membenci He Yang.

Mengapa harus menikah dengan ayam jantan yang bahkan tidak bisa bertelur?
(Buat apa menikahi pria yang bahkan tidak bisa melahirkan?)

Terlebih lagi, kakaknya sendiri juga tidak mencintai pria ini, dan seluruh keluarga berharap mereka segera bercerai.

Lu Tingfeng sendiri juga sudah bilang ke keluarganya bahwa mereka akan segera bercerai, dan pembagian harta akan adil, dan ia pasti akan menandatangani surat cerai nanti.

Sementara Lu Wenwen sendiri sangat mengidolakan Zhao Libing, dan dapat dikatakan sebagai penggemar nomor satu. Keluarga Lu sendiri kaya dan berpengaruh, jadi makan bersama selebriti atau berfoto adalah hal biasa. Perlahan-lahan, dia menjadi akrab dengan idolanya dan keduanya menjadi teman baik. baru kemudian Lu Wenwen tahu bahwa Zhao Libing pernah menjalin hubungan dengan kakaknya.

Keinginan Lu Wenwen untuk memiliki Zhao Libing sebagai kakak ipar semakin kuat.

Jadi, melihat kakaknya mengabaikan Zhao Libing selama beberapa waktu, dia menjadi sangat marah hingga ia merasa tidak terima dan langsung menyeret Zhao Libing untuk mendatangi tempat tinggal Lu Tingfeng dan He Yang.

Dia harus memberi He Yang peringatan.

He Yang tidak keberatan dengan mereka berdua yang mondar-mandir di dalam rumah.

Tapi, saat mereka ingin masuk ke kamar tidur pribadi miliknya dan Lu Tingfeng, itu tidak bisa ditoleransi.

Kamar tidur adalah ruang pribadi mereka berdua, dia tidak ingin orang lain melihatnya, apalagi orang itu adalah seorang simpanan.

“Kakak ipar, bolehkah aku masuk ke kamar kakakku? Aku adiknya.”

“Kamu tidak dibolehkan memasuki kamarku dan kamar kakakmu.”

Lu Wenwen, yang sejak kecil dimanja keluarganya, jelas tidak bisa menerima sikap He Yang yang seperti itu. Ia bersikeras ingin masuk, ingin lihat apa yang bisa He Yang lakukan terhadapnya.

Lu Wenwen mencoba mendorong He Yang yang menghalangi di depan pintu, tapi kekuatan wanita jelas tidak sebanding dengan pria.

Bagaimanapun juga, ia tidak berhasil menyingkirkan He Yang yang berdiri menghalangi di depan pintu.

Lu Wenwen sangat marah hingga matanya terbelalak. dan akhirnya, dengan penuh amarah, tapi dia bukan orang yang mudah menyerah. Tanpa ragu, dia menampar He Yang dengan keras.

Sebuah bekas tamparan merah langsung terlihat jelas di pipi He Yang.

Zhao Libing melihat He Yang dipermalukan, rasa kesal di hatinya akhirnya terlampiaskan.

Dia butuh seorang putri yang semena-mena seperti Lu Wenwen untuk mengajari pria rendahan ini.

Ketika Lu Tingfeng kembali pada malam hari, dia melihat Lu Wenwen dan Zhao Libing duduk dengan tenang di meja makan menunggu makan malam.

Sementara sosok kurus itu masih sibuk di dapur.

“Ge, kamu sudah kembali.” Begitu Lu Wenwen melihat kakaknya, dia menyapa Lu Tingfeng yang baru saja mengganti sepatu dan memasuki rumah, dengan senyuman di wajahnya.

Lu Tingfeng tidak terkejut melihat adiknya datang menemuinya, Tapi ia terkejut melihat Zhao Libing di sana.

“Kamu kenapa di sini?” tanya Lu Tingfeng.

“Ge, apa yang sedang kamu lakukan? Aku meminta Li Bing jie untuk menemaniku ke sini, apakah kamu tidak menyukainya?” Lu Wenwen pura-pura cemberut, bersikap manja.

Sebaliknya, Zhao Libing tampak tenang. Dia tersenyum lembut dan berkata, “Kalau kamu tidak suka aku di sini, aku bisa pergi.”

Begitu Zhao Libing berdiri, Lu Wenwen segera meraih tangannya, memberi isyarat kepada kakaknya, dan membujuknya dengan kata-kata manis hingga Zhao Libing akhirnya duduk kembali.

Tepat pada saat itu, He Yang membawa keluar piring berisi irisan kentang dan bahan makanan lain yang sudah disiapkan.

Melihat Lu Tingfeng kembali, He Yang segera mengambil satu set peralatan makan lagi untuknya.

Kuah hotpot sudah mendidih, dan uap panas yang mengepul, sup yang menggelegak, aroma harum menguar ke seluruh ruangan.

He Yang tidak berkata apa-apa, hanya berfokus pada tugasnya. Ia tahu, dalam situasi seperti ini, ia harus tetap menjaga harga dirinya, entah menang atau kalah.

Lu Tingfeng duduk di sebelah He Yang. Mengetahui bahwa He Yang gemar makan babat, dia segera memberikan babat yang baru masak itu kepada He Yang.

He Yang makan dalam diam.

“Tingfeng, pesta penutupan syutingku akan diadakan dua hari lagi, maukah kamu datang?” Zhao Libing bertanya.

Sambil terus mengambilkan makanan untuk He Yang, Lu Tingfeng menjawab, “Lihat nanti, kalau tidak sibuk, aku akan datang.”

“Ge, kamu harus pergi! Ada banyak orang penting di pesta itu. Libing jie seorang diri di sana, Jika kamu tidak ada di sana, seseorang pasti akan memaksanya minum. Apakah kamu bersedia melakukannya?”

Lu Wenwen terus berusaha menciptakan kesempatan bagi Libing dan kakaknya untuk bersama.

“Lu Wenwen, kamu tahu banyak. Ini karena kerjaanmu sehari-hari cuma ngejar-ngejar artis?” tegur Lu Tingfeng.

Ditegur seperti itu oleh kakaknya, Lu Wenwen pun segera melahap makanan dalam mangkuknya.

Dia takut kakaknya akan mendesak dia untuk pergi ke perusahaan untuk magang. Dia belum cukup bersenang-senang dan tidak ingin bekerja sama sekali.

“Apakah kamu akan datang?” Zhao Libing terus mendesak.

“Aku usahakan. Ayo, makan daging sapi ini.” jawab Lu Tingfeng sambil mengalihkan perhatian, agar suasana tetap tenang.

Tapi di hati He Yang, sudah dipenuhi kekecewaan, bahkan keputusasaan.

Ia tak yakin apakah Lu Tingfeng dan Zhao Libing benar-benar menjalin hubungan. Tapi kelembutan Lu Tingfeng terhadap Zhao Libing, perhatian kecil-kecil itu, sudah jauh melebihi apa yang bisa ia bayangkan.

He Yang tidak mengucapkan sepatah kata pun selama makan, topik pembicaraan mereka tidak bisa dia ikuti.

Yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha makan sebanyak mungkin.

Namun, rasa mual karena kehamilan kembali menyerang. He Yang berdiri dan berlari cepat ke kamar mandi.

Berjongkok di depan toilet dan muntah begitu banyak hingga seluruh tempat menjadi gelap dan bahkan empedu pun keluar.

Setelah muntah, dia membasuh wajahnya, ia keluar dari kamar mandi—dan tepat di saat itu, ia melihat di pintu, Zhao Libing menarik lengan Lu Tingfeng dan mengecup pipinya.

Kemudian dia menutup pintu mobil dan pergi bersama Lu Wenwen.

Tadi, sorot mata Zhao Libing padanya jelas penuh kesombongan dan pamer, sementara Lu Tingfeng sama sekali tidak menolak. Keputusasaan dan rasa sakit yang muncul dari dalam hati menyebar ke seluruh tubuh, membuatnya gemetar.

Ketika Lu Tingfeng berbalik, dia melihat He Yang berdiri di sana, tidak bergerak. Entah bagaimana, Lu Tingfeng mendapati pria ini semakin lama semakin kurus.

“Tingfeng, apakah kamu dan dia…benar-benar bersama?”

He Yang menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya dengan suara gemetar.

Catatan Penerjemah:

娶一個不會下蛋的公雞幹嘛 (Qǔ yīgè bù huì xiàdàn de gōngjī gàn ma?) : Mengapa harus menikah dengan ayam jantan yang bahkan tidak bisa bertelur?
Dalam konteks budaya Tionghoa, ini adalah metafora kasar yang biasanya digunakan untuk mengejek seseorang (biasanya laki-laki) yang dianggap tidak berguna atau tidak mampu memenuhi tanggung jawab, terutama dalam hal ekonomi atau melanjutkan keturunan.
公雞 (Gōngjī) : Ayam jantan (simbol laki-laki.)
不會下蛋 (Bù huì xiàdàn) : Tidak bertelur (tidak mampu menghasilkan (uang/anak/prestasi).
Nuansa: Kalimat ini sangat ofensif, bernada merendahkan, dan sering dipakai dalam argumen atau kritik pedas.

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man

離婚後成了豪門大佬的小心肝
Status: Ongoing Type: Author: Released: 2022 Native Language: China
【CEO Dominan dan Licik (Gong) VS Istri Manis dan Lembut (Shou)】 Hubungan pernikahan He Yang dan Lu Tingfeng berada di ambang kehancuran. Lu Tingfeng tidak mencintainya, karena hatinya sudah diisi oleh “cahaya bulan putih” (cinta sejatinya yang sempurna) yang tak tergantikan. He Yang telah berusaha ribuan kali, tapi tetap tidak bisa membuat Lu Tingfeng jatuh cinta padanya. Dengan tubuh yang penuh luka, He Yang berlutut di hadapan Lu Tingfeng dan berkata: "Aku tidak menginginkan apa pun lagi, kumohon lepaskan aku. Aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan mengganggumu lagi." ...Tiga tahun kemudian, He Yang kembali ke Beijing dengan seorang anak berusia tiga tahun. Lu Tingfeng, yang kini seperti orang gila, terus mengejarnya dan memohon maaf: "Baobei, aku salah, kamu boleh marah atau memukulku, asalkan kamu bahagia." "Baobei, ini kartu kreditku, ini PIN-nya, ini kunci mobilnya. Semua milikku adalah milikmu." "Baobei, aku sudah tidur di sofa selama sebulan, bolehkah malam ini tidur di ranjang bersamamu?" "Baobei, bolehkah kita negosiasi soal uang jajan? Bolehkah aku minta dinaikkan sedikit?"   Catatan:
  • Awal cerita sedikit angst, tapi manisnya luar biasa di akhir!
  • 1V1, keduanya setia (double cleanliness), ada unsur mpreg (kelahian anak oleh pasangan pria).
  • Pasangan pendukung (side CP) juga memiliki cerita yang sangat manis! 

Comment

Leave a Reply

error: Content is protected !!

Options

not work with dark mode
Reset