He Yang kembali ke rumah lamanya yang sederhana.
Rumah ini hanya seluas delapan puluh meter persegi dengan tiga kamar. Meski tidak besar, berkat rajinnya ibunya dulu merapikan, rumah ini tetap terlihat bersih dan rapi.
Ini adalah tempat di mana He Yang tumbuh besar. Di sini, dia pernah merengek pada ibu dan kakaknya, menikmati masakan mereka, mengenakan buatan tangan ibunya, dan mengerjakan PR yang diajarkan kakaknya.
Setiap sudut rumah ini dipenuhi kenangan masa kecilnya—kenangan yang kini hanya tinggal sejarah. Kini, hanya dia seorang yang kembali ke rumah ini dalam kesendirian.
Menggulung lengan bajunya, He Yang berencana membersihkan rumah secara menyeluruh sebelum menetap.
Tak disangka, Zhou Ruixi dan Nenek Panti datang membantu membereskan rumah. Berkat bantuan mereka, rumah pun cepat bersih dan terlihat seperti baru.
Namun masih banyak barang kebutuhan sehari-hari yang kurang. Setelah mandi, He Yang berjalan kaki ke supermarket terdekat untuk berbelanja.
Setelah dua tahun pergi, kembali ke sini membuat setiap pepohonan dan jalan terasa begitu akrab dan hangat.
Di perjalanan, beberapa orang menatapnya penasaran. Hingga seorang wanita yang suka bergosip dengan suara nyaring dan kulit kecokelatan yang duduk di bangku depan supermarket langsung mengenali sosok ramping itu sebagai He Yang. Ia mendekat dan membanjirinya dengan pertanyaan:
“He Yang, bukankah kamu sudah menikah? Kenapa tiba-tiba pulang? Suamimu yang tampan itu mana?”
“Jangan-jangan kamu bercerai? Katanya suamimu orang kaya, pasti kamu dapat banyak harta gono-gini, benarkan?”
“Hei, cepat jawab!”
Sang wanita terus mengoceh, tapi He Yang sama sekali tidak menghiraukannya. Dia masuk ke supermarket, membeli barang yang diperlukan, lalu langsung pulang.
Dulu, orang-orang di kota kecil ini memandang rendah keluarganya. Teman-teman sebayanya sering mengejek dan enggan bermain dengannya karena orang tua mereka menggosipkan bahwa He Yang adalah “monster” yang bukan pria maupun wanita, dan keluarganya pembawa sial.
Awalnya, hal ini tentu menyakitkan. Tapi lama-kelamaan He Yang sadar bahwa omongan orang tidak bisa dikendalikan. Yang penting fokus pada hidup sendiri.
Kota Jiangnan sendiri adalah destinasi wisata. Kota kecil “Xingfu Zhen” (Kota Kebahagiaan) tempat tinggal He Yang terkenal dengan pemandangan indah dan danau alamnya yang memesona, dengan permukaan air berkilauan seperti permata saat tertiup angin.
Dua tahun lalu, Lu Tingfeng dan kakeknya berwisata ke sini, dengan He Yang sebagai pemandu mereka. Lu Tingfeng sangat royal—satu-satunya permintaannya adalah membuat kakeknya senang.
Dengan pengalamannya, He Yang mengatur akomodasi mereka di penginapan terbaik dan memandu mereka keliling Jiangnan selama dua bulan lebih.
Ketika Lu Tingfeng menggandeng tangan He Yang pulang ke kampung halaman saat itu, para tetangga langsung gempar. Mereka iri: bagaimana mungkin seorang “monster” bisa mendapatkan pria tampan dan kaya, sementara putri mereka yang cantik dan pintar tidak?
Kini, setelah dua tahun, He Yang kembali sendirian. Kabar ini langsung menyebar, dan banyak yang bersikap sinis.
Tapi He Yang mengabaikan mereka. Dia pulang membawa dua kantong belanjaan dan merapikan rumah hingga layak ditinggali.
Setelah memblokir nomor telepon dan WeChat Lu Tingfeng, ponselnya akhirnya tenang.
He Yang mengunggah foto di media sosial dengan caption: “Aku kembali.”
Tak selang berapa lama, banyak komentar bermunculan—termasuk dari mantan klien wisatanya. Ini menjadi promosi tidak langsung, karena He Yang berencana kembali bekerja sebagai pemandu wisata.
Nama “Xingfu Zhen” (Kota Kebahagiaan) sendiri sudah menarik banyak wisatawan. Ditambah pemandangan alamnya yang memukau, tidak sulit bagi He Yang untuk kembali ke pekerjaan lamanya.
Hanya saja, kini dia hamil. Berjalan selama enam jam sehari pasti akan lebih melelahkan.
Biro perjalanan terbaik di kota ini adalah milik keluarga Li Guangbin, teman dekat He Yang semasa SMA. Setelah pulang, He Yang langsung menemui Li Guangbin untuk membicarakan rencananya.
Li Guangbin, yang kini mengelola bisnis keluarganya, tentu tidak menolak. Dia bahkan senang bisa bertemu kembali dengan teman lamanya dan mengajaknya berkumpul.
Li Guangbin adalah teman sekelas He Yang sejak SMA. Dengan tinggi 185 cm, dia sangat berbakat di bidang olahraga—juara berbagai kompetisi atletik sekolah. Dulu dia ingin masuk militer, tapi orang tuanya menolak. Setelah lulus kuliah tahun ini, dia terpaksa mengelola bisnis keluarga karena ibunya sakit.
Li Guangbin sendiri tidak menyangka He Yang akan kembali.