Switch Mode

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man (Chapter 30)

Badai Akan Datang (Bag. 2)

Kehadiran Zhao Libing yang datang dengan kursi roda benar-benar di luar perkiraan He Yang.

Wajah Zhao Libing kini pucat, matanya yang biasanya bersinar kini sayu, rambutnya agak kusut, dan tubuhnya jauh lebih kurus dari pertemuan terakhir.

Kaki kirinya masih dibalut gips, membuatnya harus bergantung pada kursi roda.

Meski penampilannya sebagai bintang besar kini lusuh, aura dominannya tetap terasa.

Begitu asistennya mendorong kursi rodanya masuk, Zhao Libing langsung menyeringai. “Terkejut? Aku datang mencarimu.”

He Yang sebenarnya tidak ingin berurusan dengan orang seperti ini, tapi dia bisa menebak alasan kedatangannya.

Dia sudah melihat berita viral – Zhao Libing kini dibenci seperti tikus jalanan. Jatuh dari status bintang besar, tentu sulit diterima bagi yang mentalnya lemah. Satu-satunya penyelamatnya pasti Lu Tingfeng.

Dengan Lu Tingfeng dibawa paman ke rumah keluarga, mungkin Zhao Libing tidak bisa menghubunginya dan memilih datang ke sini.

Kedatangannya pasti sudah direncanakan.

Yang tersisa hanyalah drama klise seperti di sinetron – wanita simpanan dengan sombong memaksa istri sah untuk bercerai.

“Nona Zhao, ini rumahku. Aku mengizinkanmu masuk karena sikapku yang besar hati. Sebagai tamu, tolong perhatikan tutur katamu.”

Asistennya langsung naik pitam. “Beraninya kamu bersikap seperti itu pada kakakku!”

Zhao Libing menyuruhnya diam.

“He Yang, mari bicara langsung. Awalnya kamu menikahi Tingfeng hanya demi uangnya. Sekarang aku ingin posisi Nyonya Lu. Aku akan memberimu 50 juta asal kamu segera pergi. Bagaimana?”

“Nona Zhao langsung ke pokok persoalan. Boleh aku tanya – apakah uangmu ini… Bersih?”

Manusia cenderung takut pada yang keras. Di depan Lu Tingfeng, He Yang selalu merasa inferior, mencintai hingga kehilangan jati diri. Tapi begitu ada yang menyentuh batasannya, dia bisa melawan dengan gigih.

Zhao Libing gemetar marah, tapi dengan kaki cedera, dia tidak bisa berdiri berdebat. Namun tujuannya datang bukan untuk bertengkar.

“Kamu tidak berani menerima? Atau tidak mau meninggalkan keluarga Lu, terus memonopoli Tingfeng?”

He Yang tertawa dingin. Dia pikir wanita ini tidak takut gossip dan setia pada Lu Tingfeng. Ternyata sama saja – dihujat, masa lalu dibongkar, diejek. Pasti Lu Tingfeng belum memberitahunya tentang rencana perceraian mereka.

“Zhao Libing, aku tidak tertarik pada uangmu. Jika ingin posisi Nyonya Lu, bicaralah dengan Lu Tingfeng. Apa gunanya membicarakannya denganku?”

“Itu karena kamu bersikeras tidak mau cerai!”

“Kalau begitu tunggulah! Bukankah katamu tidak peduli?”

Zhao Libing tahu orang ini sulit dihadapi, tapi tidak menyangka sekeras ini. Meski darahnya mendidih, dia harus menahan diri.

Suasana menjadi tegang.

Musim gugur di ibu kota sudah seperti musim dingin. Angin kencang berhembus di luar, disusul hujan yang menghujam jendela.

Beruntung pemanas ruangan menyala, jadi He Yang tidak kedinginan.

Yang dia rasakan hanya jengkel.

Menghadapi ancaman dan bujukan Zhao Libing, dia ingin sekali mengusir wanita ini.

Tapi tiba-tiba sikap Zhao Libing berubah total. Suaranya tenang:

“Kalau kita tidak bisa sepakat, tidak perlu diteruskan. A-Qing, bantu aku. Aku perlu ambil sesuatu dari kamar Tingfeng.”

Asistennya segera membantu Zhao Libing berdiri menuju tangga.

He Yang ragu. Dia tidak ingin wanita lain masuk ke kamar Lu Tingfeng. Tapi faktanya, dia sebentar lagi akan bercerai. Zhao Libing adalah wanita yang paling dicintai Lu Tingfeng – tanpa izinnya, bahkan He Yang sendiri pun tidak berhak masuk.

Tepat saat itu, Zhou Ruixi menelepon.

“Libing jie, mau ambil apa? Aku saja yang ambilkan,” tanya si asisten.

“Tidak usah. Nyalakan rekaman video dan audio di handphone-mu, paham?”

“Paham, tapi aku khawatir kamu—”

“Tidak akan. Tenang saja. Aku sudah bertahun-tahun akting, aku tahu caranya.”

Zhao Libing menunggu waktu yang tepat, lalu berpura-pura keluar dari kamar Lu Tingfeng. Di atas tangga, dia berpura-pura ragu sebelum memanggil He Yang:

“Bisa tolong bantu aku turun?”

Nadanya tulus dan sopan, sangat berbeda dengan kesombongannya tadi. Dengan gips di kaki kirinya, memang sulit baginya turun sendiri.

Melihat He Yang masih ragu, dia melanjutkan: “Aku akan langsung pergi setelah turun. Meski kita bermusuhan, aku mohon bantuanmu dengan tulus. Bolehkah?”

Satu hal yang paling disesali He Yang dalam hidupnya adalah menolong Zhao Libing saat itu.

Karena kejahatan dalam hati manusia tidak terbatas.

He Yang naik ke lantai dua dan mengulurkan tangan kanannya. Rencananya, dia dan asisten akan membantu Zhao Libing turun bersama.

Tiba-tiba Zhao Libing tersenyum. “Bagaimana kalau kita bertaruh? Menurutmu, siapa yang akan menang?”

He Yang tidak ingin menghiraukannya.

“Tahukah kamu mengapa Tingfeng begitu mencintaiku dan tidak bisa melupakanku? Karena aku cinta pertamanya. Dulu dia memberikan banyak janji. Waktu itu kupikir itu hanya omong kosong seorang anak kecil, tidak kuhiraukan. Setelah putus, aku masuk dunia hiburan, berjuang keras untuk sukses.”

“Ketika bertemu lagi dengannya, aku baru sadar – dia tidak berbohong. Semua yang dijanjikannya benar, karena dia berasal dari keluarga Lu, kaya dan berkuasa. Meski sudah menikah, aku bersumpah akan merebutnya kembali. Dia adalah milikku.”

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man

離婚後成了豪門大佬的小心肝
Status: Ongoing Type: Author: Released: 2022 Native Language: China
【CEO Dominan dan Licik (Gong) VS Istri Manis dan Lembut (Shou)】 Hubungan pernikahan He Yang dan Lu Tingfeng berada di ambang kehancuran. Lu Tingfeng tidak mencintainya, karena hatinya sudah diisi oleh “cahaya bulan putih” (cinta sejatinya yang sempurna) yang tak tergantikan. He Yang telah berusaha ribuan kali, tapi tetap tidak bisa membuat Lu Tingfeng jatuh cinta padanya. Dengan tubuh yang penuh luka, He Yang berlutut di hadapan Lu Tingfeng dan berkata: "Aku tidak menginginkan apa pun lagi, kumohon lepaskan aku. Aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan mengganggumu lagi." ...Tiga tahun kemudian, He Yang kembali ke Beijing dengan seorang anak berusia tiga tahun. Lu Tingfeng, yang kini seperti orang gila, terus mengejarnya dan memohon maaf: "Baobei, aku salah, kamu boleh marah atau memukulku, asalkan kamu bahagia." "Baobei, ini kartu kreditku, ini PIN-nya, ini kunci mobilnya. Semua milikku adalah milikmu." "Baobei, aku sudah tidur di sofa selama sebulan, bolehkah malam ini tidur di ranjang bersamamu?" "Baobei, bolehkah kita negosiasi soal uang jajan? Bolehkah aku minta dinaikkan sedikit?"   Catatan:
  • Awal cerita sedikit angst, tapi manisnya luar biasa di akhir!
  • 1V1, keduanya setia (double cleanliness), ada unsur mpreg (kelahian anak oleh pasangan pria).
  • Pasangan pendukung (side CP) juga memiliki cerita yang sangat manis! 

Comment

Leave a Reply

error: Content is protected !!

Options

not work with dark mode
Reset