He Yang tahu Zhou Ruixi sangat menyukai SpongeBob SquarePants dan segala merchandise terkait. Karena itu, ia sudah menyiapkan seprai, bantal guling, dan piyama bergambar SpongeBob untuk adiknya.
Begitu keluar dari kamar mandi, Zhou Ruixi langsung memakai piyama kuning SpongeBob yang menggemaskan. Dipadukan dengan wajahnya yang masih kekanak-kanakan, ia terlihat seperti siswa SMA yang belum dewasa.
“Gege, sudah telepon Nenek belum?”
“Baru saja. Kemarilah, gege mau bicara sesuatu.”
Zhou Ruixi melompat seperti pegas ke atas kasur empuk, berguling-guling sebentar sebelum memeluk bantal SpongeBob-nya. “Gege ingin tanya kenapa aku pergi keluar dari panti?”
“Iya. Kamu masih terlalu kecil, tidak ingin sekolah? Bekerja itu sangat melelahkan.”
“Nenek sudah tua, adik-adik di panti juga masih kecil. Kalau tidak ada uang, ya tidak usah sekolah! Aku bisa kerja apa saja, ge. Tidak takut capek, aku mau cari uang buat Nenek.”
He Yang mengelus kepala adiknya dengan perasaan haru. “Kalau begitu, main dulu di rumah beberapa hari. Nanti kalau gege libur, aku akan bantu mencarikan pekerjaan untukmu.”
“Yey, baik!”
“Sudah, tidur yang awal.”
He Yang berdiri untuk menyelimuti Zhou Ruixi, lalu mematikan lampu dan hendak keluar. Tiba-tiba Zhou Ruixi bertanya dengan suara kecil, “gege, mana suamimu? Kenapa tidak kelihatan?”
“Dia sibuk bekerja, jarang pulang. Istirahat dulu, besok kita bicara lagi.”
Di mata He Yang, Zhou Ruixi tetaplah seorang anak kecil. Meski ada yang menganggapnya “bodoh” karena kepolosannya, He Yang justru melihatnya sebagai malaikat kecil yang lugu.
Ia tidak ingin mencemari pikiran polos Zhou Ruixi dengan masalah rumit orang dewasa. Pasti adiknya akan mengkhawatirkannya terus-menerus.
Malam itu, He Yang kembali tidur di kamar Lu Tingfeng. Menghirup aroma yang masih melekat di selimut, ia merasa tenang dan tertidur nyenyak tanpa mimpi.
***
“Gege, bangun! Sarapan sudah siap!” Zhou Ruixi sudah bangun pagi dan membangunkan He Yang.
Kebiasaannya bangun jam 7 tidak berubah meski ranjangnya sekarang sangat empuk. Memikirkan kakaknya harus bekerja, ia segera mandi lalu turun ke dapur membuat sarapan.
Jam kerja He Yang dari pukul 10 pagi hingga 8 malam. Sebenarnya ingin tidur lebih lama, tapi tidak tega menolak kebaikan adiknya.
Begitu turun, di meja sudah tersedia dua mangkuk mi daging sapi dengan telur mata sapi di atasnya.
“Masakan Ruixi enak sekali! Gege berikan jempol!”
Sambil makan, He Yang terus memuji. Zhou Ruixi hanya tersipu, tertawa kecil sambil menunduk menghabiskan mienya.
Setelah sarapan, He Yang memintanya tinggal di rumah. Jika bosan bisa menonton TV atau bermain dengan Coco.
Zhou Ruixi mengangguk patuh, memeluk Coco sambil menonton kartun SpongeBob di sofa.
***
Pizza tempat He Yang bekerja terletak di pusat perbelanjaan delapan lantai yang lengkap dengan berbagai toko dan hiburan.
Kadang karyawan toko lain memesan pizza karena jaraknya dekat. Jika sedang sibuk, manajer akan menyuruh He Yang mengantarkannya.
Sudah bekerja cukup lama, ia hafal letak setiap toko di mal itu.
Saat mengantar dua pizza ke sebuah butik mewah, ia kembali bertemu Lu Tingfeng dan Zhao Libing.
Zhao Libing sedang melihat kalung terbaru Cartier, sesekali meminta pendapat Lu Tingfeng.
Sebenarnya Lu Tingfeng sangat tidak suka berbelanja. Untuk barang yang diinginkannya, cukup perintah dan akan diantar ke rumah.
Tapi karena rayuan Zhao Libing, terpaksa ia menemaninya.
Dan sekali lagi, di sini ia bertemu dengan He Yang.
Tubuhnya semakin kurus, mengenakan seragam pizza sambil menyerahkan pesanan kepada karyawan wanita dengan sopan.
Wajahnya tetap tampan, sampai karyawan itu memaksanya mengobrol dengan malu-malu.
“Tingfeng, bagaimana kalung ini?” Zhao Libing mengangkat sebuah kalung, lalu menyadari arah pandang Lu Tingfeng. Benar-benar menjengkelkan!
“Tolong ambilkan pasangan cincin itu.”
Harga barang di sini kebanyakan sangat mahal, hanya terjangkau bagi mereka yang sudah kuat finansial.
Melihat selebriti seperti Zhao Libing dan pria tampan berpenampilan mewah di sampingnya, para karyawan toko memandang dengan iri.
Mereka yang sehari-hari melayani orang kaya langsung mengenali pria itu sebagai Lu Tingfeng, pewaris keluarga Lu yang sering dikabarkan sebagai pacar Zhao Libing.
“Tingfeng, aku suka cincin ini, kita beli ini?”
Zhao Libing sengaja meninggikan suara, merangkul lengan Lu Tingfeng.
“Terserah kamu.”
“Kalau sudah kubeli, kamu juga harus pakai! Tidak boleh dilepas tanpa izinku.”
Lu Tingfeng diam.
Zhao Libing melanjutkan, “Kamu ingat tidak dulu kamu pernah memberiku cincin perak? Cincin itu masih kusimpan. Jangan-jangan kamu sudah membuangnya?”
“Tidak, masih di rumah.”
Zhao Libing puas, menyandarkan kepala di bahu Lu Tingfeng. Siapa pun yang melihat pasti akan berkata “serasi”!
Cincin pernikahan He Yang masih melekat di jari manis kirinya, bahkan saat mandi dan mencuci. Sedangkan cincin Lu Tingfeng sudah dilepas setahun yang lalu.
Ternyata, ketidakpedulian memang selalu meninggalkan jejak.