Di perjalanan pulang bersama dengan mobil yang dikemudikan Lu Tingfeng, He Yang telah mencuri pandang padanya lebih dari sekali.
Lu Tingfeng yang kesal akhirnya bertanya, “Sudah puas melihat? Apa kamu ingin bertanya lagi soal hubunganku dengan Zhao Libing?”
He Yang mengangguk kaku, lalu tersadar dan menggelengkan kepala.
Dia tidak ingin tahu lagi.
“Tinggal enam hari,” ingatkan Lu Tingfeng.
Enam hari—sungguh cepat! Sebulan telah berlalu. Apa yang bisa diubah dalam enam hari?
“Tingfeng, apakah kamu menyukai anak-anak?” tanya He Yang tiba-tiba, menatapnya langsung.
“Suka.”
Jawaban ini sempat membangkitkan harapan kecil di hati He Yang. Dia sedang berpikir apakah harus memberitahunya tentang kehamilannya, ketika Lu Tingfeng melanjutkan:
“Tapi tergantung siapa yang melahirkannya. Tidak semua anak akan kusukai.”
“Kamu sangat membenciku. Apa anak yang kulahirkan juga akan sangat kamu benci?” He Yang memaksakan senyum palsu, mengikuti ucapan Lu Tingfeng.
Tak disangka, jawaban Lu Tingfeng datang cepat dan tegas: “Tentu.”
Kata “tentu” itu seperti panah beracun yang menembus jantung He Yang, meracuni seluruh tubuhnya dari dalam hingga hancur tak berbentuk.
He Yang menunduk perlahan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Dia pura-pura tak peduli, mencoba tersenyum tipis—senyum yang tak sampai ke matanya. Jari-jarinya di dalam saku gemetar. Jawaban itu cukup membuatnya putus asa.
“…Kalau… kalau Zhao Libing yang melahirkan anakmu… kamu pasti akan… menyukainya, bukan?”
“Itu bukan urusanmu.”
“Syukurlah, anak pertama kita tidak jadi lahir. Kalau tidak, kamu akan punya satu lagi orang yang dibenci di dunia ini.”
Di luar, dia terlihat tenang. Tapi di dalam, hatinya hancur, berusaha keras menahan guncangan emosi yang membuat tubuhnya gemetar dan matanya memerah.
Lu Tingfeng tidak menanggapi.
Suasana di dalam mobil yang sempit langsung menjadi beku.
Tiba-tiba, hujan turun. Rintik-rintik deras menghujam kaca mobil dan jalanan, membentuk jaring kabut yang buram.
Di tengah perjalanan pulang, bunyi ponsel tiba-tiba memecah kesunyian, menarik He Yang kembali ke realita. Itu telepon masuk di ponsel Lu Tingfeng.
Setelah menerima telepon, Lu Tingfeng menghentikan mobil di pinggir jalan.
“Turun.”
He Yang mengira salah dengar. Saat Lu Tingfeng mengulang, di luar hujan begitu deras. He Yang ingin bertanya apakah ada payung, tapi melihat raut wajah Lu Tingfeng yang semakin kesal, dia hanya bisa membuka pintu dan melangkah keluar.
“Turun.”
Begitulah, He Yang berdiri bodoh di tepi jalan, kehujanan, basah kuyup dalam sekejap.
Tak ada tempat berteduh di sekitarnya. Dia terpaksa berlari kecil menerobos hujan.
……
Lu Tingfeng memacu mobilnya kembali ke rumah keluarga.
Tadi, ayahnya menelepon, mengatakan ibunya sakit dan memintanya segera pulang.
Setelah memarkir mobil, dia langsung berlari masuk rumah, menuju kamar di lantai dua. Beberapa orang sudah berkumpul di sekitar tempat tidur besar.
Nyonya Mei Xi baru berusia 47 tahun. Usianya tak bisa dibilang tua, apalagi dengan perawatan dan olahraga teratur, penampilannya jauh lebih muda dari seumurannya.
Biasanya kesehatannya sangat baik, bahkan jarang pilek atau demam. Tiba-tiba jatuh sakit seperti ini membuat Lu Tingfeng panik, wajahnya berubah pucat.
Begitu melihat anaknya, Nyonya Mei Xi menarik tangan Lu Tingfeng dengan lemah. “Nak, sepertinya Ibu tidak akan bertahan lama.”
Lu Tingfeng duduk di tepi tempat tidur, meraba dahinya. Tidak panas, wajahnya juga masih cerah. Dia tidak melihat tanda-tanda sakit, tapi tetap berusaha menghibur. “Ibu, jangan bicara begitu. Ibu masih cantik dan muda, setidaknya harus hidup sampai seratus tahun.”
Nyonya Mei Xi, dengan kuku merah mencoloknya, menopang dahinya sambil menggeleng. “Ibu sekarang pusing dan lemas. Tapi kalau begini terus, Ibu bisa mati karena kesal padamu.”
Mendengar itu, Lu Tingfeng akhirnya paham—ibunya tidak sakit, hanya pura-pura.
“Katakan saja, Ibu. Kesalahan apa yang kulakukan sekarang?”
Nyonya Mei Xi langsung bersemangat, matanya melotot, jarinya menunjuk pelipis Lu Tingfeng. “Kamu tidak tahu? Hmph! Kamu menikahi istri yang tidak bisa memberikan cucu. Bukan hanya itu sekarang jamu malah bermain-main dengan seorang aktris. Dengarkan, Lu Tingfeng, meskipun kamu anakku, meskipun nanti bercerai dengan He Yang, jika kamu berani membawa perempuan itu masuk ke keluarga kita, aku, ayahmu, dan seluruh keluarga tidak akan setuju!”
“Ibu… Ibu memanggilku pulang hanya karena ini?”
“Lalu kenapa? Nak, jika kamu benar-benar mencintai gadis baik-baik dari keluarga terhormat, Ibu tidak akan ikut campur. Tapi Zhao Libing—tidak boleh! Ibu tidak mengizinkannya masuk ke keluarga kita.”
“Ibu, kenapa Ibu sangat membencinya?”
Nyonya Mei Xi merasa anaknya ini benar-benar bodoh dalam urusan cinta. Dengan nada kesal, dia berkata, “Perempuan yang bisa sukses di dunia hiburan, menurutmu latar belakangnya bisa bersih? Keluarga kita punya nama besar. Jika kamu mau menyelidikinya, itu mudah sekali. Tapi kamu malah seperti kesurupan, membiarkannya memanfaatkan namamu untuk menciptakan skandal!”
“Baik, baik. Ibu, jujur saja, aku tidak memikirkan sejauh itu. Ibu tidak perlu khawatir sekarang, oke?”
“Tidak boleh! Kamu harus berjanji padaku tidak akan menikahi perempuan itu. Ibu benci dia.”
“Ibu, kepalaku sekarang kacau, hatiku juga tidak karuan. Tolong jangan paksa aku, hm?”
Dengan sedikit merajuk pada ibunya, Nyonya Mei Xi akhirnya luluh. Melihat anaknya lebih kurus dari sebelumnya, dia dengan lembut mengelus pipi Lu Tingfeng.
“Baik, Ibu tidak akan memaksamu. Ibu hanya merasa menikahi He Yang sudah merupakan keputusan yang salah. Jadi Ibu tidak ingin kamu membuat kesalahan lagi.”