Gelombang skandal ini cepat terselesaikan. Begitu kebenaran terungkap, publik pun gempar. Mereka yang sebelumnya menghujat Grup Perusahaan Lu di internet langsung bungkam. Segera, sorotan beralih ke perusahaan keluarga Pang.
Berbagai rumor dan gosip bermunculan, membuat perusahaan Pang kembali menjadi pusat perbincangan.
Pang Yuebai berdiri di depan jendela kaca sambil menyesap anggur merah, menikmati pemandangan di kejauhan dengan senyum tipis.
Peristiwa ini bisa dibilang titik awal yang bagus. Masih akan ada banyak permainan di masa depan.
Pertemuan kedua dengan Lu Tingfeng sengaja diatur oleh Pang Yuebai.
Dia berpura-pura tidak sengaja berada di dekat gedung Grup Perusahaan Lu. Kebetulan, Lu Tingfeng sesekali makan di restoran masakan Jiangnan di sekitar sana.
Dan kebetulan lagi, Pang Yuebai juga ada di sana.
“Tuan Lu, kebetulan sekali,” Pang Yuebai menyesuaikan kacamatanya, menyapa dengan ramah.
Lu Tingfeng dengan santai mengundangnya duduk. Bertemu di tempat seperti ini—mana mungkin sekadar kebetulan?
“Tuan Pang, ada keperluan apa? Lebih baik langsung saja.”
“Tidak ada keperluan khusus. Hanya ingin bernostalgia dengan Tuan Lu. Apakah Tuan Lu sama sekali tidak merindukan teman sekelasmu ini?”
Pang Yuebai telah berubah sangat drastis. Dulu, ia pemalu, penakut, dan tidak percaya diri, bicaranya selalu terbata-bata. Sekarang, ia fasih berbicara, sopan, dan berkelas—sulit percaya ini orang yang sama.
“Pang Yuebai, jangan berpura-pura. Kita tidak sejalan, jadi tidak perlu basa-basi. Jika ada urusan, langsung saja. Jika tidak, aku akan pergi.”
Pang Yuebai tersenyum, tidak tersinggung. “Tuan Lu masih tetap tergesa-gesa. Kukira kamu akan mencariku sendiri.”
Dari perkataan ini, Lu Tingfeng paham.
Insiden pembongkaran yang menyebabkan kematian itu direncanakan keluarga Pang. Meski tidak ada bukti, kebenarannya sudah jelas. Hanya saja, Pang Yuebai tidak menyangka Lu Tingfeng bisa menahan diri—setelah menyelesaikan masalah dengan sederhana, ia tidak mencari masalah dengan keluarga Pang. Meskipun ada beberapa rumor tentang mereka di internet, Pang Yuebai justru menunggu Lu Tingfeng datang menantang.
Tapi Lu Tingfeng tidak datang.
“Tidak perlu. Kita tidak akrab, tidak ada hubungan khusus. Apa kamu mau ajak kerja sama?”
“Benarkah… tidak ada hubungan?” Pang Yuebai membalas.
Senyum Pang Yuebai terlihat seperti serigala berbulu domba—licik dan mengganggu. Lu Tingfeng tidak ingin membahas masa lalu lagi, tapi jika Pang Yuebai terus memprovokasi, ia tidak akan ragu untuk mengulangi pembalasan seperti dulu.
—
He Yang mengirim pesan: Bajumu sudah dicuci. Kalau sempat, ambil sepulang kerja.
Lu Tingfeng langsung bersemangat seperti anjing gembala yang hiperaktif, bahkan melompat-lompat di kantor.
Setelah menyelesaikan pekerjaan, ia keluar ruangan dengan wajah berseri. Xiao Xu, yang ingin membicarakan sesuatu, dihentikan olehnya.
“Tidak ada waktu. Nanti saja.”
Tapi Xiao Xu menahannya dan akhirnya mengaku: ia ingin meminjam uang.
Setelah didesak, ternyata Xiao Xu punya pacar yang berasal dari keluarga kaya. Meski gajinya tinggi, biaya lamaran dan tunangan terlalu besar, jadi ia ingin meminjam ke bosnya.
Lu Tingfeng menulis cek dengan cepat dan memberikannya sebelum pergi.
Dari langkahnya yang ringan, Xiao Xu bisa menebak: pasti ada hubungannya dengan si dia.
Beberapa hari ini sibuk, jadi tidak sempat menjemput Xuan Xuan. Ia mengecek jam dan menelepon He Yang: ia akan menjemput Xuan Xuan sepulang sekolah, He Yang bisa langsung pulang.
Xuan Xuan tidak menyangka ayah angkatnya yang menjemput. Begitu melihat sosoknya di pintu, ia melepaskan tangan guru dan berlari ke pelukan Lu Tingfeng.
“Paman, aku kangen!” Xuan Xuan memeluk erat dan mencium pipinya.
Dirindukan oleh anaknya sendiri membuat Lu Tingfeng merasa langkahnya semakin dekat dengan mereka. Masih harus terus berusaha.
“Paman juga kangen. Kenapa matamu bengkak? Apa kamu menangis?”
Lu Tingfeng jeli. Ia langsung memperhatikan mata Xuan Xuan yang sembap.
Bu guru Li bukan pertama kali bertemu Lu Tingfeng. Xuan Xuan lebih mirip dengannya daripada He Yang.
Soal matanya yang bengkak, ia menjelaskan, “Anak-anak suka bertengkar. Salah satu temannya tidak sengaja menabrak Xuan Xuan sampai menangis.”
Penjelasan ini tidak memuaskan Lu Tingfeng. Sejak lama, ia ingin memindahkan Xuan Xuan ke TK swasta, tapi tahu He Yang tidak akan setuju.
Ini bukan pertama kali Xuan Xuan diganggu. Ia anak termuda di kelas, pendiam, dan tidak pernah nakal. Anak baik sering jadi sasaran—bahkan di usia dini.
Mungkin pemikiran orang dewasa terlalu rumit, tapi Lu Tingfeng curiga ada anak yang sengaja menabrak Xuan Xuan. Rasa iri anak-anak bisa kuat. Xuan Xuan disukai teman-teman dan guru.
Dulu, Lu Tingfeng sering menjenguknya. Ia tumbuh di lingkungan mewah dan sadar akan statusnya. Bahkan teman masa kecilnya pernah mengejek: Kamu tidak bisa berpura-pura jadi orang miskin. Aura bangsawanmu terlalu kuat.
Jadi, siapa pun bisa melihat: Xuan Xuan punya ayah miskin dan ayah kaya.