Switch Mode

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man (Chapter 13)

Tidak Disukai (Bag. 3)

Pesta ulang tahun itu dipenuhi oleh pria dan wanita tampan dari kalangan orang kaya.

Malam ini, Lu Wenwen terlihat memakai gaun malam putih. Gaun panjang berbahan kasa tipis itu membungkus tubuhnya yang ramping dengan sempurna, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah. Gaun tanpa straps itu dihiasi bunga-bunga kecil dari mutiara yang tersebar di seluruh bagiannya, memberikan kesan elegan dan anggun.

Pandangan semua orang tertuju pada putri kecil yang sangat dimanja ini.

Dia berjalan ke panggung yang didirikan di atas rumput, dan setelah menyampaikan beberapa kata, tepuk tangan meriah menggema di lokasi.

Kemudian, semua orang berkumpul untuk makan.

Para pria dan wanita duduk bersama, menikmati hidangan lezat, anggur, dan alunan musik yang mengalun lembut.

Sayangnya, mereka melupakan seseorang yang ada di dapur.

Xu Ma bertanya kepadanya mengapa tidak ikut makan di luar, He Yang menggelengkan kepala dan berkata lebih baik makan di sini saja.

Sebelumnya, Lu Wenwen sudah bilang agar dia tidak keluar, jangan mempermalukan mereka. Kakaknya sudah memberi tahu keluarga bahwa mereka akan segera bercerai.

Kalau dia keluar, bagaimana mereka harus memperkenalkannya? Mengatakan bahwa dia adalah istri yang dinikahi Lu Tingfeng?

Keluarga Lu sangat tidak ingin orang lain tahu fakta ini, dan Lu Tingfeng lebih tidak ingin orang luar mengetahuinya. Itu sebabnya dia tidak pernah memakai cincin pernikahan saat keluar. Dulu, saat kakek masih hidup, dia kadang memakainya untuk sekadar pura-pura. Setelah kakek meninggal, dia langsung melepas cincin itu dan melemparkannya ke dalam laci.

Suatu hari, saat membersihkan, He Yang melihat cincin pernikahan itu tergeletak di dalam laci.

Hanya dia yang selalu memakai cincin pernikahannya.

Sebenarnya, dia sering menyadari bahwa Lu Tingfeng tidak mencintainya. Tapi dia sudah terlalu dalam terjerat, tidak rela menyerah, dan ingin terus berusaha.

Tidak perlu dipikirkan lagi. Semakin dipikirkan, semakin sakit hati.

Dia mengambil semangkuk nasi untuk dirinya sendiri, menambahkan beberapa lauk, lalu duduk di kursi dan makan perlahan.

Xu Ma menghela napas, menggelengkan kepala dengan sedih, lalu membawa panci terakhir berisi sup ke luar.

Ruang tamu sangat sepi, kontras dengan keriuhan di luar.

Chen Yinan adalah yang pertama menyadari bahwa He Yang belum keluar. Dia masuk ke dalam rumah dan melihat He Yang duduk sendirian di sebuah kursi sambil makan.

Semangkuk nasi, sepiring lauk. Pantas saja dia kurus.

“Kenapa tidak makan di luar?” tanya Chen Yinan.

He Yang tersenyum tipis. “Aku tidak suka keramaian, lebih suka makan dengan tenang.”

Dusta seperti ini tidak akan dipercaya siapa pun.

Chen Yinan juga bisa menebak alasannya. Keluarga Lu memang tidak menyukai He Yang, dan Lu Tingfeng sama sekali tidak menganggap He Yang sebagai istri. Itu sebabnya He Yang selalu diabaikan di keluarga Lu.

Seperti di pesta makan malam itu, begitu pula dengan sekarang.

Kebetulan, saat itu Lu Tingfeng masuk ke dalam rumah dan melihat mereka berdua—satu berdiri, satu duduk.

“Kenapa kamu ada disini?” tanya Lu Tingfeng kepada Chen Yinan.

Chen Yinan buru-buru menjelaskan, “Semua orang makan di luar, hanya istrimu yang masih di dalam rumah. Aku masuk untuk memanggilnya.”

Lu Tingfeng melirik He Yang yang sedang duduk, lalu berkata, “Kamu keluar dulu.”

Setelah Chen Yinan pergi, Lu Tingfeng menepuk bahu He Yang. “Ayo, ikut aku keluar.”

“Aku sudah kenyang, tidak perlu.”

“Aku agak tidak enak badan. Malam ini aku ingin cepat pulang, oke?”

“Terserah padamu.”

……

He Yang bekerja di toko pizza dengan baik. Kecuali saat jam sibuk di siang hari, waktu lainnya cukup santai.

Hari ini, seperti biasa, sepulang kerja dia melewati supermarket dan mengumpulkan botol-botol bekas serta kardus untuk dijual.

Tapi tidak disangka, malam ini toko tutup lebih awal karena pemiliknya ada urusan mendadak. Dia terpaksa membawa sampah-sampah itu pulang dan menjualnya besok saat berangkat kerja.

Yang tidak disangka, di tengah jalan dia bertemu Lu Tinghao, sepupu Lu Tingfeng.

Untuk pulang, dia harus berjalan selama setengah jam menyusuri jalan pegunungan sambil membawa kantong besar berisi sampah.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti di sampingnya dan memanggil namanya.

He Yang menoleh ke kiri dan melihat Lu Tinghao di dalam mobil.

Lu Tingfeng dan Lu Tinghao sangat berbeda. Di balik kewibawaannya, Lu Tingfeng punya sisi-sisi menggemaskan. Sedangkan Lu Tinghao selalu memancarkan aura tegas yang membuat orang enggan mendekat.

“Terima kasih, Tinghao gege. Tidak perlu repot-repot. Aku membawa banyak barang. Silakan jalan duluan.”

Lu Tinghao bukan tipe orang yang suka basa-basi. Jika niat baiknya ditolak, dia tidak akan memaksa. Mobilnya pun melanjutkan perjalanan.

Alasan Lu Tinghao datang menemui Lu Tingfeng adalah untuk membahas sesuatu yang serius.

“Si gila itu sudah kembali ke negeri ini. Kamu harus hati-hati,” pesan Lu Tinghao.

“Lalu apa? Aku tidak percaya dia, anak haram keluarga Pang, berani mengganggu keluarga Lu.”

“Keluarga Pang tentu tidak berani. Tapi Pang Yuebai itu gila, bisa memakan orang tanpa meninggalkan tulang. Aku khawatir dia akan mengulangi kejadian beberapa tahun lalu.”

“Baik, aku akan waspada.”

“Dan istrimu yang menarik itu… cukup unik. Keluarga Lu tidak miskin sampai tidak bisa menghidupi satu orang, kan?”

Lu Tingfeng mengikuti pandangan Lu Tinghao dan baru menyadari bahwa orang yang membawa kantong sampah kotor itu adalah He Yang.

He Yang meletakkan botol dan kardus itu di sudut kiri dekat pintu masuk.

Setelah Lu Tinghao pergi, Lu Tingfeng meledak. Dengan marah, dia mengambil kantong sampah itu dan membuangnya.

He Yang buru-buru berlari keluar untuk menghentikannya, tapi Lu Tingfeng mendorongnya.

“He Yang, jangan terus-terusan menguji kesabaranku.”

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man

After The Divorce, He Became The Sweetheart Of A Wealthy Man

離婚後成了豪門大佬的小心肝
Status: Ongoing Type: Author: Released: 2022 Native Language: China
【CEO Dominan dan Licik (Gong) VS Istri Manis dan Lembut (Shou)】 Hubungan pernikahan He Yang dan Lu Tingfeng berada di ambang kehancuran. Lu Tingfeng tidak mencintainya, karena hatinya sudah diisi oleh “cahaya bulan putih” (cinta sejatinya yang sempurna) yang tak tergantikan. He Yang telah berusaha ribuan kali, tapi tetap tidak bisa membuat Lu Tingfeng jatuh cinta padanya. Dengan tubuh yang penuh luka, He Yang berlutut di hadapan Lu Tingfeng dan berkata: "Aku tidak menginginkan apa pun lagi, kumohon lepaskan aku. Aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan mengganggumu lagi." ...Tiga tahun kemudian, He Yang kembali ke Beijing dengan seorang anak berusia tiga tahun. Lu Tingfeng, yang kini seperti orang gila, terus mengejarnya dan memohon maaf: "Baobei, aku salah, kamu boleh marah atau memukulku, asalkan kamu bahagia." "Baobei, ini kartu kreditku, ini PIN-nya, ini kunci mobilnya. Semua milikku adalah milikmu." "Baobei, aku sudah tidur di sofa selama sebulan, bolehkah malam ini tidur di ranjang bersamamu?" "Baobei, bolehkah kita negosiasi soal uang jajan? Bolehkah aku minta dinaikkan sedikit?"   Catatan:
  • Awal cerita sedikit angst, tapi manisnya luar biasa di akhir!
  • 1V1, keduanya setia (double cleanliness), ada unsur mpreg (kelahian anak oleh pasangan pria).
  • Pasangan pendukung (side CP) juga memiliki cerita yang sangat manis! 

Comment

Leave a Reply

error: Content is protected !!

Options

not work with dark mode
Reset