Mobil berhenti di depan gerbang perumahan.
Lu Tingfeng sengaja turun dan berjalan ke sisi lain untuk membuka pintu mobil.
He Yang menatapnya langsung, “Lu Tingfeng, tidak mungkin ada apa-apa di antara kita. Ke depannya, tolong jangan lagi memanfaatkan pengaruh keluargamu untuk menggangguku. Aku muak melihatnya.”
“Maaf, aku tidak tahu mereka akan mencarimu. Tapi, He Yang, bisakah kamu memberiku kesempatan? Aku serius.” Karena Xuan Xuan sedang tidur, dia sengaja menurunkan suaranya.
He Yang menggeleng dengan sinis, “Kesempatan? Dulu aku pernah memintamu memberiku kesempatan, apa kamu memberikannya? Jadi, Lu Tingfeng, jangan terlalu tinggi hati. Tidak ada orang yang akan terus menantimu di tempat yang sama. Dulu aku mencintaimu, jadi aku rela menanggung segalanya. Sekarang, melihatmu saja sudah membuatku jengkel, apalagi menyukai atau mencintaimu? Kamu pikir aku masih mencintaimu? Kalau memang begitu, kamu benar-benar terlalu arogan.”
—
Kata-kata He Yang menusuk telinga Lu Tingfeng bagai jarum halus yang menusuk jantungnya berkali-kali. Tidak terlalu sakit, tapi terasa terus-menerus.
Meski sudah mempersiapkan diri bahwa He Yang akan membencinya, mengejeknya, bahkan mengusirnya, ketika benar-benar menghadapinya, barulah dia merasakan betapa pahitnya akibat perbuatannya sendiri.
“Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Aku salah, dan aku tidak akan membantahnya. Tapi sekarang, aku benar-benar ingin memulai kembali bersamamu. Meski kamu belum percaya, kita masih punya sisa hidup. Kamu bisa melihat sendiri apa yang akan kulakukan. Bahkan jika kita tidak harus bersama, asalkan aku bisa mengantarmu bekerja setiap hari dan menjemput Xuan Xuan pulang sekolah, itu sudah cukup… Bolehkah…?”
Jika teman-teman dekat Lu Tingfeng melihatnya sekarang, pasti mereka akan terkejut. Lu Tingfeng yang dingin dan angkuh itu ternyata bisa merendahkan hati untuk memohon?
Wajah He Yang tetap datar, “Berani sekali kamu menyebut Xuan Xuan? Lu Tingfeng, apa kamu lupa? Dulu kamu bilang sangat membenciku, bahkan membenci anakku. Kamu bilang tidak akan mengakui atau membesarkan anakku, apalagi mengakui statusnya. Sekarang kamu tiba-tiba lupa dan ingin merebutnya?”
“Dan, kayu pasti sudah menyelidiki latar belakang Xuan Xuan, kan? Kalau tidak, bagaimana mungkin keluargamu satu per satu mencariku? Lu Tingfeng, aku tegaskan sekali lagi: dia adalah anakku sendiri, bukan anakmu. Jika keluargamu masih berniat merebutnya, aku tidak segan-segan membawa Xuan Xuan meninggalkan Beijing.”
Emosi He Yang semakin memanas, matanya tajam seperti landak yang mengangkat duri pelindungnya.
“He Yang, jangan emosi. Sudah kukatakan, aku tidak berniat merebut Xuan Xuan. Tapi, apa kamu pernah memikirkan Xuan Xuan? Sumber daya pendidikan di Beijing adalah yang terbaik di seluruh negeri. Bersekolah dan bekerja di sini jauh lebih baik daripada di kampung halamanmu. Aku tidak akan merebutnya, tapi aku bisa membantumu memberinya pendidikan terbaik. Dia bisa masuk TK, SD, SMP, bahkan universitas terbaik. Aku juga ayahnya, aku tidak akan menyakitinya. Kamu boleh menolak bantuanku, tapi bagaimana dengan anak itu? Perselisihan orang dewasa tidak perlu dibebankan pada anak.”
—
He Yang harus mengakui, setiap kata Lu Tingfeng masuk akal.
Dia selalu merasa Xuan Xuan terlalu menderita bersamanya. TK yang diikutinya bukanlah yang terbaik, dan dia pernah di-bully. He Yang tidak punya latar belakang yang kuat atau kemampuan untuk menyekolahkannya di tempat bagus. Tapi, ayah kandung Xuan Xuan memang bisa membantunya.
Apa yang harus dia lakukan?
Melihat He Yang diam, Lu Tingfeng melanjutkan dengan lembut, “Dulu aku tidak mengerti perasaan sebagai orang tua. Percaya atau tidak, sekarang aku mengerti. Aku sama sepertimu, hanya ingin Xuan Xuan tumbuh di lingkungan baik, bersekolah di tempat terbaik, dan hidup sehat. Aku tidak memaksamu. Jika suatu hari kamu sudah memutuskan, telepon aku saja. Sekarang sudah larut, cepat bawa Xuan Xuan pulang.”
—
Saat He Yang meletakkan Xuan Xuan di tempat tidur dengan hati-hati, bocah itu menggeliat dan menggerakkan bibir mungilnya, seolah masih ingin minum susu dalam mimpinya. Benar-benar anak yang doyan makan, membuat He Yang tersenyum.
“Mobil…”
Dua kata itu tiba-tiba meluncur dari mulut Xuan Xuan, menyentuh emosi He Yang hingga puncaknya.
Selama ini, Xuan Xuan paling sering naik bus. Meski tidak mengeluh, He Yang tahu bus penuh sesak, bau keringat, bau kaki, bahkan asap rokok.
Orang dewasa saja tidak tahan, apalagi anak kecil.
Sementara itu, Lu Tingfeng lahir dari keluarga kaya dengan garasi penuh mobil mewah. Satu mobilnya saja bisa menarik perhatian dan membuat banyak orang iri melihatnya.
Xuan Xuan suka mobil, dan pertama kali duduk di mobil mewah Lu Tingfeng, dia sangat senang.
Inilah perbedaan dua dunia: satu di langit, satu di bumi. Saat He Yang harus berjuang keras untuk mendapatkan sesuatu, Lu Tingfeng hanya perlu menggerakkan jari untuk meraihnya dengan mudah.