“He Yang, aku masih berharap pada akhirnya akulah yang menang.”
Setelah meminta maaf, Zhao Libing langsung pergi.
Sementara itu, He Yang duduk di atap hotel, merasakan angin sejuk yang berhembus, pikirannya kacau.
Dia tidak mengerti maksud dari semua omongan aneh Zhao Libing tadi.
Beberapa menit kemudian, dia menyeringai mengejek dirinya sendiri—buat apa memikirkan hal-hal seperti ini? Bukankah semuanya sudah berlalu?
Dia kemudian menepuk-nepuk debu di celananya dan turun dengan perasaan lega.
Xuan Xuan sangat menantikan akhir pekan. Meski sekolah juga menyenangkan, liburan tetap lebih seru—bisa bangun siang, makan masakan ayahnya, dan diajak jalan-jalan.
Saat He Yang mengeluarkan dua piring berisi daging, mata Xuan Xuan langsung berbinar. Duduk di bangku kecilnya sambil memegang sendok, dia menantikan ayahnya menaruh sayap ayam dan kaki babi ke piringnya.
“Papa, aku mau makan daging!”
“Baik, Xuan Xuan sabar ya. Papa pasang celemek dulu.”
Mungkin ini hanya perasaannya, tapi He Yang merasa akhir-akhir ini Xuan Xuan semakin gemuk.
Wajahnya yang sudah bulat dan kenyal sekarang terlihat semakin tembam, dan beratnya juga terasa lebih saat digendong.
Padahal, makanan di TK-nya tidak mungkin setiap hari ada daging-dagingan.
Selain itu, belakangan Xuan Xuan sering pulang membawa banyak permen. He Yang tahu ini karena teman-temannya suka padanya, jadi memberinya permen sebagai hadiah.
Tapi suatu hari, tanpa sengaja dia melihat ada mainan baru di tas Xuan Xuan—sebuah mobil hitam yang keren. Dia tidak tahu harganya, tapi dari bentuk dan bahannya, pasti tidak murah.
Dia mencoba bertanya pada Xuan Xuan, yang dengan jujur menjawab: “Ini dipinjamkan teman di TK.”
Jawaban itu menghilangkan kecurigaannya.
Menjelang sore, He Yang mengajak Xuan Xuan ke taman dekat rumah untuk jalan-jalan, sementara Xuan Xuan bertugas memegang tali anjing mereka.
Xuan Xuan sangat suka bermain dengan Dan-Dan (si anjing). Bahkan camilan favoritnya rela diberikan pada Dan-Dan.
He Yang senang melihatnya punya teman bermain—setidaknya Xuan Xuan tidak kesepian.
Sambil duduk di gazebo taman, He Yang mengeluarkan ponsel untuk memotret Xuan Xuan yang sedang bermain di lapangan rumput.
Xuan Xuan memeluk Dan-Dan dengan manja, menarik perhatian anak-anak lain yang terpesona oleh anjing putih yang lucu itu. Seketika, Xuan Xuan menjadi pusat perhatian lagi.
Beberapa orang tua berdiri tidak jauh dari He Yang, mengobrol santai tentang anak-anak. Meski terlibat dalam percakapan, pandangan He Yang tidak pernah lepas dari Xuan Xuan.
Sampai telepon dari kepala panti menghubunginya.
Begitu dia menunduk mengambil ponsel dari saku, saat mengangkat kepala lagi—Xuan Xuan sudah tidak terlihat.
Hanya Dan-Dan yang masih ada.
Dunia He Yang runtuh seketika. Tangannya gemetar memegang telepon, jantung berdebar kencang saat dia berlarian mencari anaknya.
Taman itu ramai di malam hari, dipenuhi orang yang berjalan-jalan atau mengajak anjing mereka. Sangat sulit mencari seorang anak kecil di kerumunan itu.
Dengan panik, He Yang berteriak memanggil nama Xuan Xuan sambil terus mencari.
Tidak ada respons. Tidak ada tanda-tanda Xuan Xuan. Jantungnya hampir copot.
Sampai akhirnya, di sudut taman, dia melihat sosok tinggi berdiri membelakanginya—dengan Xuan Xuan dalam pelukannya.
Saat sosok itu berbalik—
Lu Tingfeng?
Amarah meluap dari dadanya. Dengan gerakan cepat, He Yang menghampiri dan menampar keras wajah itu.
“Apa yang kamu inginkan?” tanyanya penuh kemarahan, dada naik turun, sebelum merebut Xuan Xuan dari pelukan Lu Tingfeng dengan kasar.
Tubuh He Yang gemetar tak terkendali. Jantungnya berdegup kencang, nyaris melompat dari dada. Baru saja, pikirannya kosong—dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Xuan Xuan benar-benar hilang.
Anak itu adalah segalanya baginya.
Dan pelakunya ternyata dia.
Lu Tingfeng diam menerima tamparan itu. Dia ingin menjelaskan, tapi melihat mata He Yang yang dipenuhi amarah dan ketidakpercayaan, semua kata tertahan di tenggorokannya.
“Lu Tingfeng, jika kamu masih ingin menyiksaku untuk kesenanganmu, tidak masalah. Lakukan saja. Tapi jika kamu berani menyentuh anakku—aku bersumpah akan melawanmu sampai mati.”
“Aku tidak ingin menyiksamu, juga tidak berniat buruk pada anakmu… kamu… terlalu banyak berpikir.”
Kata-katanya keluar dengan susah payah, terasa pahit di mulut.
Sementara Xuan Xuan, yang melihat ayahnya menampar “paman” itu, bertanya dengan suara kecil:
“Papa, kenapa papa memukul paman?”