Switch Mode

Seorang Pria Duduk di Kegelapan

Meng Qianshan tidak berhasil membantu Nyonya Huo keluar dari kediamannya hari ini.

Begitu tuannya mengetahui bahwa ada yang tidak beres dengan Nyonya Huo karena dia tidak menanggapi panggilnya setelah dua kali, Meng Qianshan berlari kembali dan secara pribadi pergi mencari dokter.

Jiang Suizhou, yang tetap berada di kamar, memerintahkan pelayan lainnya untuk membantu mendorong Huo Wujiu ke kamar dalam dan membantunya berbaring di tempat tidur terlebih dahulu.

Huo Wujiu sepertinya sedang demam, demam parah. Meski dia masih bisa duduk, reaksinya jauh lebih lambat.

Hanya ketika seseorang mencoba membantunya berdiri barulah dia bereaksi.

Pelayan itu baru saja hendak menyentuh kakinya tetapi dia secara refleks mengangkat tangannya dan memblokir pria itu.

Wajah pelayan itu diliputi keheranan. Kemudian Huo Wujiu menunduk dan berkata dengan suara serak, “Aku akan melakukannya sendiri.”

Dia bicara dengan tenang tapi tegas. Pelayan itu buru-buru melihat ke arah Jiang Suizhou dan menunggu perintah Pangeran sendiri. Namun, dia menemukan bahwa Jiang Suizhou, yang duduk di sampingnya, tidak memandangnya dan malah mengarahkan pandangannya pada Huo Wujiu.

Huo Wujiu tidak memperhatikan mereka. Sebaliknya, dia menguatkan tangannya di sandaran lengan. Meskipun dia bergerak dengan terampil, terlihat jelas bahwa dia lemah saat ini dan gerakannya agak lamban.

Dia perlahan menopang dirinya dan pindah ke tempat tidur.

Setelah duduk di tempat tidur, dia tidak berbaring, melainkan sedikit memiringkan tubuhnya menopang dirinya dengan tiang ranjang.

Dia berusaha untuk masih duduk tegak

Meskipun Huo Wujiu tidak berkata apa-apa, Jiang Suizhou melihat adanya kebanggaan dalam gerakannya.

Tatapan Jiang Suizhou berhenti dan tiba-tiba dia tidak bisa tidak memikirkan Huo Wujiu dari buku sejarah.

Ia lahir di Yangguan sebagai putra Marquis Dingbei dari Dinasti Jing. Dia belajar berkuda dan memanah pada usia enam tahun, dan berburu harimau pada usia sepuluh tahun. Dia berusia tiga belas tahun pada tahun ke-20 Jianye, ketika Kaisar Jing memaksa ayahnya untuk memberontak dan bangkit melawan Jianye. Pada tahun ke-23 Jianye, ayahnya meninggal dalam Pertempuran Xunyang. Pamannya yang bergabung dengan ayahnya dalam pemberontakan juga dikepung oleh tentara.

Dialah yang mengambil alih bendera panglima di tengah kekacauan dan keluar dari pengepungan untuk menyelamatkan pamannya. Ia memenangkan pertempuran meski kalah jumlah dan menjadi terkenal dari satu pertempuran. Setelah itu, dia membela pamannya dan menjadi komandan pasukan Liang selangkah demi selangkah.

Sebelum ditangkap, dia tidak pernah kalah dalam satu pertempuran pun dan merupakan kekuatan yang tak tertandingi. Hanya dalam empat tahun, ia menginvasi Yecheng dan mengusir Kaisar Jing menyeberangi Sungai Yangtze. Sejak saat itu, LiangJing diperintah oleh dua sungai yang berbeda.

Dia adalah seorang jenderal muda berpakaian bagus, menunggangi kuda yang gagah. Sekalipun para sejarawan menulis tentang dia secara tidak memihak, mereka tidak dapat menyangkal karakter legendarisnya.

Dia adalah pahlawan yang telah dipelajari Jiang Suizhou berkali-kali melalui materi sejarah yang telah menguning, selama ribuan tahun.

Huo Wujiu memang benar adalah orang yang sombong.

Jiang Suizhou tiba-tiba mengerti mengapa kaisar mematahkan kaki Huo Wujiu.

Sepertinya ini satu-satunya cara untuk membuatnya berlutut.

Jiang Suizhou begitu terganggu sehingga tidak menyadari bahwa dia sedang menatap Huo Wujiu sepanjang waktu. Dia juga tidak menyadari bahwa meskipun Huo Wujiu sudah kelelahan karena demam, dia masih sangat menyadari mata Jiang Suizhou dan sedikit mengernyit, balas menatapnya.

Pada saat Jiang Suizhou telah sadar kembali, mata Huo Wujiu sudah berubah menjadi tatapan permusuhan.

Jiang Suizhou sekilas memahami sorot matanya.

Seolah-olah Huo Wujiu bertanya kepadanya: ‘Mengapa kamu belum pergi?’

Jiang Suizhou: “…”

Sedikit emosi langka yang muncul di hatinya segera menghilang.

Dia menarik pandangannya dan dengan rasa bersalah memasang wajah dingin. Dia berdiri mengumpulkan jubahnya dengan satu tangan, berjalan ke samping tempat tidur, dan menatap Huo Wujiu.

“Mengapa dokter belum datang?” Dia dengan dingin bertanya kepada para pelayan di dekatnya.

Para pembantu dan pelayan di sekitar semuanya tahu bahwa Yang Mulia Pangeran memiliki temperamen yang buruk dan sulit untuk dilayani, jadi mereka tidak berani mengatakan sepatah kata pun. Keheningan menyelimuti ruangan itu untuk beberapa saat.

Meskipun demikian, hanya Jiang Suizhou yang tahu bahwa dia merasa sangat malu di bawah tatapan Huo Wujiu. Karena meskipun dia memperlihatkan sisi yang kuat diluar tapi didalam dirinya sangatlah lemah. Jadi dia buru-buru mencari alasan utuk menghindar.

Dari sudut matanya, dia melihat ke arah Huo Wujiu lagi, tapi pria itu sudah lama menunduk dan tidak menatapnya.

…Bahkan dalam keadaan sakit, kamu tetaplah sangat tidak menyenangkan.

Untungnya, Meng Qianshan datang tepat waktu, terengah-engah bersama dokter.

Itu masih Dokter Zhou.

Dokter Zhou bergegas masuk membawa kotak obat. Begitu dia memasuki kamar, dia melihat Pangeran berdiri di samping tempat tidur dengan ekspresi dingin. seolah sedang menghadang Huo Wujiu. Mellihat dia masuk sang Pangeran sedikit memiringkan kepalanya dan menatapnya dengan sepasang mata dingin.

Dokter Zhou sangatlah pemalu, jadi dia segera menundukkan kepalanya, tidak berani melihat lagi.

“Datang dan periksa dia.” Dia mendengar perintah dingin Pangeran.

“Lihat betapa sakitnya dia. Jangan biarkan dia mati di rumahku.”

Suara itu sangat enak di dengar. Nadanya arogan dan lambat, tapi ada sedikit suara terengah-engah yang hampir tak terdengar. Hanya dengan mendengarnya seseorang bisa mengetahui bahwa tubuhnya sangat tidak sehat dan dia kekurangan energi.

Dokter buru-buru menjawab dan maju ke depan dengan pandangan tertunduk, dia kebetulan melihat Huo Wujiu yang sedang duduk di tempat tidur, dengan halus mengangkat pandangan matanya dan menatap Pangeran dengan penuh arti.

Dia sepertinya ingin mengalihkan pandangannya, namun seolah-olah ada sesuatu yang menariknya, tatapannya berhenti dan tertuju pada Pangeran lagi.

Ketika Dokter Zhou hendak melihat lagi saat itu matanya tiba-tiba bertabrakan dengan tatapan dingin, bermusuhan dan suram.

Huo Wujiu memergokinya sedang mengintipnya.

Mata itu jelas terlihat lemah dan keruh, tetapi tetap saja membuat Dokter Zhou takut. Dia segera mengalihkan pandangannya, berjalan ke tempat tidur Huo Wujiu, meletakkan peralatan medisnya, dan mulai mendiagnosisnya.

Jiang Suizhou duduk kembali.

Meng Qianshan berdiri disebelahnya, dengan terampil mengisi teko dengan teh panas segar. Dia meletakkannya di sampingnya dan bertanya dengan hati-hati, “Di mana Yang Mulia menginap malam ini?”

Melihat kondisi Nyonya Huo hari ini, dia pasti tidak bisa melayani Yang Mulia di tempat tidur. Apalagi saat ini dia sedang demam dan tubuh Yang Mulia Pangeran lemah. Bagaimana jika dia menularkan penyakitnya kepada Pangeran?

Jiang Suizhou memperhatikan Dokter Zhou dan tidak berbicara untuk beberapa saat.

Meng Qianshan merasakan Yang Mulia sedang tidak ingin berbicara, jadi dia juga hanya diam menunggu di sisinya dan tidak bertanya lebih jauh.

Sesaat kemudian, Dokter Zhou berbalik dan berlutut di depan Jiang Suizhou.

“Yang Mulia, Nyonya Huo menderita demam tinggi karena peradangan luka…” Dia buru-buru menambahkan, “Nyonya Huo bisa menahannya, tetapi dia telah menderita demam selama beberapa waktu. Lukanya cukup serius, jadi jika ini terus berlanjut, saya khawatir akan membahayakan nyawanya!”

Jiang Suizhou mengerutkan kening, “Apakah seserius itu?”

Dokter Zhoufu mengangguk, “Saya akan segera merebus obatnya lalu mengganti perban Nyonya Hou. Selama demamnya cepat mereda, dia akan baik-baik saja.”

Jiang Suizhou mengangguk. “Suruh Meng Qianshan merebus obatnya, sementara kamu mengganti perbannya sekarang.”

Dokter Zhou segera menyetujuinya.

Jiang Suizhou menopang wajahnya dengan satu tangan dan menoleh ke samping untuk menatap Huo Wujiu, yang sedang duduk di tepi tempat tidur.

Meskipun Huo Wujiu sedang duduk tegak, dia pusing karena demam. Matanya yang baru saja menatap tajam ke semua orang juga tertutup rapat.

Dokter Zhou dengan hati-hati membuka perbannya untuk membersihkan lukanya. Darah telah membasahi kain kasa, membuatnya menempel pada daging. Bahkan ketika dia dengan hati-hati membuka kain kasa, lukanya masih tetap robek.

Mata Huo Wujiu terpejam, tapi alisnya berkerut. Dia mengerutkan bibirnya dan masih menahan diri untuk tidak terengah-engah bahkan dalam keadaan kacau. Hanya alisnya yang gemetar saat perbannya dibuka yang menunjukkan bahwa dia kesakitan.

Jiang Suizhou tiba-tiba teringat sesuatu.

Ketika ia masih kecil dan masih tinggal di rumah ayahnya, saudara laki-lakinya, yang lahir dari seorang wanita muda yang tidak dikenalnya, pernah mendorongnya menuruni tangga dan menyebabkan pergelangan kakinya terkilir. Suasana hati ibunya sedang buruk saat itu dan selalu menangis, jadi dia tidak berani memberi tahu ibunya. Dia tertatih-tatih kembali ke kamarnya dan menahan rasa sakit sepanjang malam.

Perasaan menahan rasa sakit sendirian begitu menyiksa, tidak perduli berapa banyak buku yang sudah dia baca tidak ada bacaan yang bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit itu.

Namun bagi Huo Wujiu, hal itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang terpatri di tulangnya.

Jiang Suzhou tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap tubuh Huo Wujiu, tidak mampu melepaskan tatapannya sedetik pun.

Tubuhnya di penuh dengan luka bersilangan, segar, berdarah, dan sangat dalam.

…Pasti sangat menyakitkan.

Dia duduk di sana dengan tenang, memperhatikan Dokter Zhou membersihkan luka Huo Wujiu, membalutnya kembali dengan kain kasa, dan membantunya berbaring.

Dokter Zhou kemudian melapor ke Jiang Suizhou. Dia berlutut sekali lagi, dan berkata, “Yang Mulia, perbannya telah diganti. Nanti, berikan saja obat pada Nyonya dan bersihkan dia dengan handuk dingin untuk mendinginkannya. Begitu demamnya mereda, tidak akan ada masalah serius.”

Jiang Suizhou mengangguk dan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar dia pergi dan melakukannya sendiri.

Dokter Zhou segera menyiapkan sapu tangan dan meletakkannya di dahi Huo Wujiu.

Tidak lama kemudian, Meng Qianshan kembali membawa obatnya.

Dia menyerahkan obat tersebut kepada dokter dan kembali ke sisi Jiang Suizhou, membungkuk dan bertanya, “Yang Mulia, ini sudah larut. Mengapa Anda tidak kembali ke Aula Anyin dan beristirahat sekarang?”

Melihat Jiang Suizhou sedang menatap Huo Wujiu, dia tidak lupa menambahkan, “Jika Anda merasa tidak nyaman, saya akan meninggalkan beberapa orang lagi di sini untuk berjaga-jaga.”

Dia akhirnya yakin bahwa Huo Wujiu tidak akan mati karena demam, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Namun, dia tidak bisa tidak memikirkan Huo Wujiu yang asli.

Saat itu, pasti tidak ada orang yang membalutnya atau mengganti pakaiannya. Untuk bertahan dari demam tinggi seperti ini, sungguh mengherankan berapa hari dan malam dia terbakar demam. Dia dengan paksa menarik nyawanya kembali dari tangan Yama.

Mungkin karena Jiang Suizhou tahu bagaimana rasanya menahan rasa sakit sendirian, jadi dia tiba-tiba merasa enggan untuk pergi.

Beberapa saat kemudian, dia memerintahkan dengan santai, “Carikan buku untukku.”

Meng Qianshan tercengang.

Dia berbicara dengan cepat dan berkata tanpa berpikir, “Apakah Yang Mulia tidak akan pergi…?”

Jiang Suizhou mendongak dan meliriknya, memaksa Meng Qianshan menelan kembali sisa kata-katanya ke dalam mulutnya.

Meng Qianshan hanya bisa mengangguk berulang kali dan mencarikannya buku.

——

Saat Huo Wujiu bangun, hari sudah larut malam.

Dia membuka matanya dalam kegelapan, merasakan sesuatu di dahinya. Dia mengangkat tangannya dan menariknya, dan melihat bahwa itu adalah saputangan yang lembap dan dingin.

Dia mengerutkan kening.

Sepertinya dia demam sejak sore hari ini. Ini bukanlah hal yang aneh. Dia terluka berkali-kali di medan perang sehingga terkadang dia menderita demam. Dia hanya perlu tidur malam yang nyenyak agar menjadi lebih baik.

Pada malam hari, Pangeran Jing sepertinya telah berkunjung, dan sebelum dia mengetahui apa yang akan dilakukan Pangeran Jing, Huo Wujiu sudah pingsan karena demam.

Huo Wujiu mengangkat tangannya dan menyentuh keningnya.

Kompres dahi itu dingin dan sejuk

Dia sepenuhnya sadar pada saat ini, tetapi perasaan yang sangat tidak nyata muncul jauh di dalam dirinya.

Dia adalah seorang tawanan perang yang ditangkap musuh, alat yang dikirim ke kediaman Pangeran Jing untuk mempermalukannya. Namun, dia kini terbaring dengan tenang di tempat tidur. Luka-lukanya telah diobati dan sekarang bersih dan segar; dahinya ditutupi saputangan dingin; dan udara dipenuhi aroma obat yang samar.

Rasanya sangat pahit, namun menenangkan dan menyejukkan.

Ia lahir di perbatasan dan memiliki kehidupan yang sulit. Dia sangat mampu menahan pukulan dan cedera. Dia belum pernah dirawat seperti ini seumur hidupnya.

Dia menoleh ke samping dan melihat seorang pria duduk dalam cahaya redup.

Pria itu tertidur, memegang buku di satu tangan di pangkuannya sambil menopang sisi kepalanya dengan tangan lainnya. Bulu matanya panjang menutupi sepasang matanya yang selalu dingin dan angkuh.

Cahaya menyinari sisi samping wajahnya, melapisi dirinya dengan cahaya yang lembut.

Huo Wujiu menyadari bahwa dia yang telah menjaganya.

Nafasnya tersengal-sengal tak terkendali.

After the Disabled God of War Became My Concubine

After the Disabled God of War Became My Concubine

Status: Ongoing Type: Artist:
Menurut legenda rakyat populer, dewa perang tersohor dari Dinasti Liang Agung, Huo Wujiu, ditangkap oleh negara musuh. Meridiannya diputus dan kedua kakinya dipatahkan sebelum ia dijebloskan ke penjara. Untuk mempermalukannya, sang kaisar, penguasa negara yang tidak kompeten itu, menawarkannya kepada saudaranya yang berlengan pendek ( bahasa Mandarin: gay ) sebagai selir. Jenderal Huo menderita segala macam penghinaan, memendam dendamnya selama tiga tahun, dan kemudian melarikan diri ke Da Jing dengan menggunakan tipu daya. Ia menyembuhkan kakinya yang lumpuh dan tiga bulan kemudian memimpin pasukannya menyerbu ibu kota musuh. Ia membunuh kaisar, menghancurkan ibu kota, dan akhirnya memenggal kepala orang tak berguna berlengan pendek itu, memajang kepalanya di tembok kota selama tiga tahun berikutnya. Sejak saat itu, dunia telah bersatu. ——— Seorang profesor sejarah di sebuah universitas tertentu menerima tesis senior yang menggambarkan legenda Huo Wujiu, dan menulis satu halaman penuh kritik kepada mahasiswa tersebut. Dia lalu berkedip dan berpindah ke tubuh pangeran yang gay. Ada lentera dan dekorasi tergantung di mana-mana, dan para pelayannya melaporkan bahwa jenderal musuh yang cacat telah dibawa ke istana raja dengan tandu pengantin. Melihat Jenderal Huo di depannya, mengamati tatapan jahatnya, keadaannya yang tersiksa, mengenakan gaun pengantin merah, Jiang Suizhou menyadari bahwa bahkan legenda pun bisa menjadi kenyataan. Legenda ini bahkan dapat membuatnya dipenggal di depan umum di masa mendatang, kepalanya tetap tergantung di tembok kota selama tiga tahun. Satu-satunya pilihan Jiang Suizhou adalah merawat Jenderal Huo dengan baik. Meski ada agenda politik tersembunyi dari istana dan upaya tiada henti dari penguasa yang tak becus untuk mempermalukannya, dia hanya bisa menggigit bibir dan mendukung Jenderal Huo; satu-satunya keinginannya adalah setelah tiga tahun, dia tetap bisa mempertahankan kepalanya ini. Tentu saja, dia tidak berani bermimpi meminta "selir" jangkung ini untuk melayaninya. Akan tetapi, sebelum tiga tahun berlalu, kaki Jenderal Huo pulih dengan sendirinya. Bukan saja ia membantai penguasa yang tak becus itu dan menyatukan bumi di bawah langit, tetapi ia juga naik ke ranjangnya dan menjepitnya di sana dengan tatapan penuh nafsu, dengan keras kepala ingin mengukuhkan statusnya sebagai selir.

Comment

Leave a Reply

error: Content is protected !!

Options

not work with dark mode
Reset